Suara dari Ruang Rektor 45 NTT: "Kami Tidak Akan Berhenti Sampai Kasus Yerdi Terang Benderang!"
Kupang – Matahari pagi baru saja naik ke atas ufuk, menyinari kompleks Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 NTT dengan cahaya yang terasa agak kelabu. Langkah kaki kami, Tim highlightNTT.com melambat saat melewati gerbang utama kampus, tempat di mana biasanya terdengar tawa dan suara riuh mahasiswa yang bergegas menuju kelas. Namun akhir-akhir ini, suasana terasa berbeda. Ada keheningan yang menyelimuti, seolah duka masih menggantung di udara, mengiringi setiap langkah menuju gedung rektorat yang berdiri kokoh di bagian kanan kampus.
Setelah melewati puluhan anak tangan menuju lantai dua yang bersih namun sepi, kami tiba di depan Ruang Rektor. 15 menit kami menunggu di depan pintu ruangan sang rektor. "Selamat pagi Bapak Rektor, mohon ijin kami sudah di depan ruangan bapak," Demikian kalimat chating whatsapp yang kami kirim kepada rektor.
Pintu ruangan rektor terbuka perlahan. Di dalam ruangan yang berpenataan rapi, dikelilingi deretan buku dan piala penghargaan, duduk seorang pria berpenampilan tenang namun terlihat memikul beban berat di pundaknya. Dia adalah Rektor UPG 1945 NTT, Bapak Uly Jonathan Riwu Kaho, S.P., M.Si. Ia menyambut kami dengan senyum tipis dan jabatan tangan yang hangat, namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan berbagai beban tugas dan tanggung jawab yang ia pikul.
"Silakan duduk. Bagaimana kabar?," ujar Pak Uly membuka percakapan, suaranya tenang namun tegas. Lalu ia mengajak duduk di sofa yang memang disediakan untuk tamu yang datang dan bertemu dengannya dengan berbagai urusan. "Kopi atau teh?," tanyanya sambung memanggil sekretaris untuk menyiapkan minuman.
Pembicaraan pun mengalir, membawa kami menelusuri kembali kronologi peristiwa yang meresahkan itu. Semua bermula saat kabar menyebar tentang meninggalnya salah satu mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Yerdi Efrosina Bekliu, yang ditemukan meninggal di kamar kosnya di kawasan Oesapa, Kupang, pada awal Mei lalu. Kabar itu datang seperti petir di siang bolong, mengejutkan seluruh civitas akademika. Yerdi, gadis muda yang dikenal rajin dan pendiam, tiba-tiba pergi meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang belum terang benderang.
"Saat pertama kali mendengar kabar itu, rasanya sangat sulit dipercaya. Seperti rektor, seperti orang tua bagi mereka, hati saya langsung hancur. Bagaimana tidak, kami menerima mereka dengan harapan besar agar mereka bisa menuntut ilmu, mengabdi, dan menjadi penerus bangsa. Mendengar ada anak didik kami yang pergi selamanya, itu adalah kehilangan yang sangat besar bagi kami semua," ungkap Pak Uly, nada bicaranya bergetar sejenak.
Ia kemudian menjelaskan langkah-langkah yang diambil pihak kampus. Begitu menerima laporan kejadian, pihak universitas langsung bergerak cepat berkoordinasi dengan pihak keluarga, kepolisian, serta pihak berwenang terkait.
"Kami tidak menutup mata, kami tidak menutup telinga. Segala hal yang perlu kami bantu, kami berikan. Kami sudah membuka diri sepenuhnya untuk penyelidikan. Kejelasan adalah hak semua pihak, terutama hak dari almarhumah Yerdi dan keluarganya," tegasnya.
Menjawab berbagai spekulasi yang beredar di masyarakat mengenai penyebab kematian, Pak Uly menegaskan bahwa hingga saat ini, pihak kampus masih menunggu hasil penyelidikan resmi dan hasil pemeriksaan medis dari pihak berwenang. Ia menekankan bahwa UPG 1945 NTT sangat menghargai proses hukum dan berkomitmen untuk mendukung transparansi penuh.
"Kami juga sudah melakukan pendalaman informasi ke teman-teman dekat, dosen, dan lingkungan pergaulan almarhumah di kampus maupun di luar kampus. Kami ingin memastikan, apakah ada hal yang terlewat, apakah ada tanda-tanda, atau tekanan yang mungkin dialami Yerdi yang tidak kami ketahui sebelumnya. Hasilnya sejauh ini menunjukkan bahwa ia adalah mahasiswi yang baik, aktif mengikuti perkuliahan, dan tidak ada catatan masalah khusus. Itulah yang membuat kami semua semakin bertanya-tanya dan sedih," jelasnya panjang lebar.
Namun, hingga lebih dari sebulan berlalu, proses hukum dan penyelidikan yang dijalankan Polresta Kupang Kota belum menemukan titik terang. Berbagai upaya sudah dilakukan penyidik: memeriksa 11 orang saksi mulai dari pemilik kos, tetangga, hingga teman-teman terdekat almarhumah, mendalami informasi yang ada, serta meneliti barang-barang milik korban. Namun kendala muncul di sana-sini, salah satunya rekaman CCTV di lokasi kejadian dipastikan sudah rusak dan tidak berfungsi jauh sebelum peristiwa terjadi, sehingga tidak bisa dijadikan alat bukti visual. Berbagai keterangan saksi pun masih perlu disandingkan dan diverifikasi ulang, belum ada kesimpulan tunggal yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kami ikut memantau perkembangan ini. Kami tahu polisi bekerja keras, tapi kami juga sama menunggu kejelasan. Ada banyak spekulasi di luar sana, ada yang bilang ini, ada yang bilang itu. Kami hanya berpegang pada proses hukum dan apa yang disampaikan secara resmi. Selama belum ada hasil pasti, kami tidak bisa mengambil kesimpulan apa pun," ujar Pak Uly dengan nada prihatin.
Poin paling ditunggu dan menjadi kunci utama adalah hasil otopsi dan pemeriksaan forensik yang dilakukan terhadap jenazah Yerdi. Berdasarkan informasi awal, saat visum luar dilakukan, ditemukan tanda-tanda kejanggalan pada fisik Yerdi maupun di lokasi kejadian dalam kamar kos, sehingga diputuskan untuk melakukan otopsi lengkap guna mengetahui penyebab pasti kematian. Sampel jaringan dan cairan tubuh pun dikirim tidak hanya ke laboratorium di Kupang, tapi juga dikirim hingga ke Bali untuk pemeriksaan lebih mendalam dan akurat. Namun hingga hari ini, hasil lengkap beserta kesimpulan resmi dari dokter forensik belum juga diumumkan ke publik maupun diserahkan ke keluarga. Sebagian hasil parsial sudah masuk, namun polisi masih menunggu kelengkapan seluruh data dan analisis akhir sebelum merilisnya, demi keakuratan dan kebenaran hukum.
Di tengah pembicaraan itu, terlihat betapa berat tanggung jawab yang diemban Pak Uly. Sebagai pemimpin kampus, ia harus menjaga ketertiban, memberikan penjelasan kepada publik, sekaligus menjadi sandaran bagi ribuan mahasiswa dan staf yang sedang berduka. Ia menceritakan bahwa kampus telah menyediakan layanan dan dukungan sejak pertama kali mendapatkan informasi Yerdi ditemukan meninggal dunia, proses visum dan otopsi di rumah sakit, pengantaran dan pemakaman di kampung halamannya di Desa Muna Kecamatan Amanatun Utara, hingga berbagai proses penanganan hukum yang telah dilaksanakan oleh kepolisian resort kota kupang (Polresta Kupang). Kampus juga menyediakan layanan bagi teman-teman dekat almarhumah maupun seluruh mahasiswa yang terdampak emosional oleh peristiwa ini.
"Kami belajar banyak dari kejadian ini. Tentu saja ada evaluasi yang harus kami lakukan. Kami akan perketat pendampingan, kami akan lebih peka lagi terhadap perubahan perilaku atau kondisi psikologis mahasiswa. Kampus bukan hanya tempat belajar teori, tapi juga tempat tumbuh dan berbagi rasa. Kehilangan Yerdi adalah pukulan telak, tapi kami harus bangkit, memperbaiki diri, dan memastikan hal serupa tidak terulang lagi," ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Menjelang akhir wawancara, Pak Uly kembali menatap kami dengan pandangan yang dalam. Ia berharap masyarakat dan keluarga dapat bersabar menunggu hasil penyelidikan, dan percaya bahwa UPG 1945 NTT yang telah bekerja sama dengan Kongres Advokat Indonesia (KAI) NTT, berjuang mencari kebenaran demi nama baik almarhumah dan nama baik institusi.
"Kami menyampaikan belas sungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga besar Yerdi Efrosina Bekliu. Kami turut berduka, kami turut merasakan kehilangan ini. Kami Tidak Akan Berhenti Sampai Kasus Yerdi Terang Benderang. Dan semoga kebenaran segera terungkap dan almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa," tutupnya, seolah menjadi doa penutup yang terucap dari hati seorang pendidik yang kehilangan anak didiknya.
Kami pun beranjak keluar dari ruangan itu, kembali melewati puluhan anak tangga menuju lantai satu yang kini terasa makin bermakna. Di balik pintu ruang rektor itu, tersimpan cerita tentang tanggung jawab, kesedihan, dan tekad untuk terus menjaga amanah pendidikan, meski harus diuji oleh peristiwa yang begitu menyakitkan. Di UPG 1945 NTT, duka belum usai, namun harapan untuk kebenaran dan perbaikan tetap tegak berdiri.**
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi