6 Anak di NTT Diduga Terpapar Radikalisme, UPTD PPA dan Densus 88 Lakukan Pendampingan
Kupang- Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bekerja sama dengan Densus 88 Antiteror dalam menangani kasus enam anak yang diduga terpapar paham radikalisme di wilayah NTT.
Penanganan dilakukan melalui pendampingan psikologis, konseling, serta pemantauan secara berkelanjutan.
Kepala UPTD PPA Provinsi NTT, Jenny Widayati, mengatakan pihaknya telah melakukan penjangkauan terhadap keenam anak tersebut sejak mereka datang ke kantor UPTD PPA. Selain itu, konseling juga telah diberikan sebagai bagian dari upaya pemulihan dan pencegahan.
"Jadi kemarin itu, kita sudah lakukan penjangkauan kepada mereka saat mereka datang ke kantor kami. Kami juga telah melakukan konseling terhadap anak-anak ini dan terus kami pantau yang bekerja sama dengan Densus 88," ujar Jenny di Kupang, Jumat (24/7).
Dia berkata, hingga saat ini jumlah anak yang terlapor masih sebanyak enam orang. Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai fenomena gunung es.
"Sementara yang terlapor baru enam orang anak itu. Saya rasa belum sejauh itu. Artinya pendapat dari kami sejauh ini hanya itu. Tapi kami tidak tahu bagaimana data yang ada di Densus 88," katanya.
Modus Rekrutmen Diduga Melalui Game Roblox
Jenny menjelaskan, berdasarkan hasil pendampingan yang dilakukan, paparan radikalisme terhadap anak-anak tersebut diduga berawal dari permainan daring (online), khususnya Roblox.
Melalui permainan itu, anak-anak kemudian diarahkan untuk bergabung ke dalam komunitas yang selanjutnya menghubungkan mereka ke grup WhatsApp.
"Mereka ini terpapar radikalisme paling utama dari game. Contohnya itu dari game Roblox. Di situ karena anak-anak tertarik maka mulailah ada komunitas yang memasukkan mereka ke dalam grup-grup WhatsApp," jelasnya.
Di dalam grup WhatsApp tersebut, lanjut Jenny, para korban diduga menerima berbagai materi yang mengandung unsur kekerasan dan membahayakan.
"Di dalam grup itu mereka diajarkan cara merakit bom, kemudian ada tutorial b*n*h diri, tutorial melakukan pembunuhan serta kekerasan," ungkapnya.
Perkuat Edukasi Pencegahan
Sebagai langkah pencegahan agar kasus serupa tidak kembali terjadi, UPTD PPA NTT bersama Densus 88 terus mengintensifkan kegiatan edukasi dan sosialisasi di lingkungan pendidikan, baik di sekolah maupun perguruan tinggi.
Dia menjelaskan, materi mengenai pencegahan paparan radikalisme terhadap anak selalu disisipkan dalam berbagai kegiatan yang melibatkan peserta didik, termasuk saat pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
"Kalau dari kami, melakukan sosialisasi di kampus dan sosialisasi ke sekolah-sekolah yang melakukan MPLS, terkait upaya pencegahan. Jadi itu selalu kami selipkan setiap kali ada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan anak," ujar dia.
Jenny juga mengimbau orang tua dan pihak sekolah untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak di dunia maya.
Ia menuturkan, kolaborasi antara keluarga dan tenaga pendidik menjadi kunci untuk mencegah anak menjadi sasaran rekrutmen kelompok yang menyebarkan paham radikal.
"Untuk itu, kita berharap ada kolaborasi antara orang tua serta guru, untuk bisa memantau anak saat mengakses layanan aktivitas di dunia maya," tutup Jenny. **(Tim/H)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi