Nelayan hingga Petani Terdampak, Permata Kupang Desak Bupati Kanis Tuaq Atasi Krisis BBM

Redaksi HighlightNTT
Dilihat 151x
Waktu Baca ± 3 Min
Bagikan Artikel
Nelayan hingga Petani Terdampak, Permata Kupang Desak Bupati Kanis Tuaq Atasi Krisis BBM
Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Asal Lembata (Permata - Kupang), Lukas Laga Pureklolon Kredit: Dok. HighlightNTT/EB

Kupang- Perhimpunan Mahasiswa Asal Lembata (Permata) Kupang menyatakan keprihatinan mendalam terhadap persoalan bahan bakar minyak (BBM) yang terus berulang di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Organisasi daerah itu mendesak Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, segera mengambil langkah konkret dan terukur untuk mengatasi persoalan BBM yang dinilai telah berdampak pada aktivitas ekonomi, transportasi, pelayanan publik, serta kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Umum Permata Kupang, Lukas Laga Pureklolon, kepada HighlightNTT di Kota Kupang, Kamis (25/6/2026) pukul 09.00 WITA.

Ia menuturkan, kelompok masyarakat yang paling merasakan dampak kelangkaan BBM adalah nelayan, petani, dan peternak. Ia juga menduga adanya oknum tertentu yang bermain di balik krisis BBM yang terus terjadi di daerah tersebut.

“Masalah BBM di Lembata membuat nelayan, petani, dan peternak menjadi pihak yang paling terdampak. Ada oknum diduga bermain di balik krisis ini," kata Laga Pureklolon.

"Pemerintah harus mengusut dan menertibkan penjualan BBM bersubsidi yang informasinya dijual secara eceran dengan harga setengah botol mencapai Rp20 ribu hingga Rp30 ribu. Hal itu harus ditindak tegas dengan memfungsikan satuan Po. PP,” tegas Lukas.

Ketum Laga juga mendesak Bupati Petrus Kanisius Tuaq untuk melakukan koordinasi secara intensif dengan PT Pertamina dan pihak-pihak terkait guna menjamin ketersediaan serta kelancaran distribusi BBM ke seluruh wilayah Kabupaten Lembata sehingga kelangkaan tidak terus berulang.

Selain itu, Permata Kupang mendorong pemerintah memperketat pengawasan terhadap distribusi BBM guna mencegah praktik penimbunan, penyalahgunaan BBM subsidi, serta distribusi yang tidak tepat sasaran yang dapat merugikan masyarakat.

Sementara itu, warga Lembata, Sebastianus Gesi, mengaku antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) telah berdampak pada kenaikan harga Pertalite di tingkat pengecer.

“Saya di kampung, Pertalite dalam botol Aqua yang isinya di bawah tiga garis dijual Rp20.000. Pertalite susah didapat, sekalinya ada harganya mahal,” ungkap Sebastianus.

Melansir DetikBali, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) mengakui adanya peningkatan antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Kabupaten Lembata.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor.

“Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan BBM kendaraan bermotor serta bertambahnya penerbitan surat rekomendasi bagi nelayan,” kata Ahad.

Selain itu, menurutnya, aktivitas pembelian oleh pengecer juga turut memengaruhi tingkat konsumsi BBM di wilayah tersebut.

Ahad menjelaskan bahwa Pertamina Patra Niaga telah melakukan berbagai langkah antisipatif untuk menjaga kelancaran penyaluran BBM dan memastikan distribusinya tetap tepat sasaran.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjalin koordinasi intensif dengan Pemerintah Kabupaten Lembata, aparat penegak hukum, dan para pemangku kepentingan terkait guna memperkuat pengawasan distribusi BBM, termasuk dalam penerbitan surat rekomendasi bagi nelayan.

“Kami terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait guna memastikan distribusi BBM berjalan optimal dan sesuai ketentuan. Pengawasan terhadap penyaluran BBM subsidi juga terus diperkuat agar manfaatnya dapat diterima oleh masyarakat yang berhak,” ujar Ahad.

Selain itu, Pertamina Patra Niaga bersama Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) juga terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap realisasi kuota serta penyaluran BBM subsidi di Kabupaten Lembata.

Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga keandalan pasokan energi sekaligus mengantisipasi peningkatan kebutuhan masyarakat.

Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pada Kamis (25/6) hanya menjawab singkat . "Hari ini rapat koordinasi dan exen (action) lapangan," kata Bupati Kanisius. ** (EB)

Reaksi Pembaca:

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan