Romo Edi Saban Bangga Temukan Tingkat Toleransi Tinggi di Kedang, Lembata
Lembata– Pastor Paroki Salib Suci Hoelea, RD Frederikus T. Saban, Pr., mengaku bangga setelah menemukan tingkat toleransi yang tinggi di wilayah Kedang, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hal tersebut disampaikan imam Katolik yang akrab disapa Romo Edi saat kegiatan Camping Rohani Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Salib Suci Hoelea di Pantai Angarlaleng, Desa Mahal II, Kecamatan Omesuri (Kedang), Sabtu-Minggu (9-10/5).
Dalam renungannya, Romo Edi menyampaikan sejumlah pesan penting yang tidak hanya ditujukan kepada OMK, tetapi juga kepada seluruh umat.
Salah satu hal yang menjadi perhatian utamanya ialah tingginya nilai toleransi masyarakat Kedang.
“Di Kedang toleransi tinggi, tapi kenapa berkelahi?” ujarnya menyoroti fenomena tawuran antaranak muda di wilayah tersebut.
Selain persoalan tawuran, Romo Edi juga menyinggung gaya hidup sebagian anak muda yang cenderung hura-hura dan terjebak dalam kenikmatan media sosial (medsos).
Ia mengingatkan bahaya kebiasaan mabuk berlebihan hingga aksi standing motor yang telah memakan korban jiwa.
“Sudah beberapa nyawa anak muda hilang karena standing motor,” katanya.
Romo Edi juga mengingatkan OMK agar tidak kalah dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT maupun robot.
Orang muda, kata dia, harus tetap menjadi diri sendiri serta aktif menggunakan kemampuan dan kreativitasnya di tengah derasnya arus media sosial yang dapat membuat OMK malas berpikir dan berkarya.
"OMK harus menjadi diri sendiri di tengah kemajuan teknologi medsos yang bisa membuat OMK malas berkreativitas dan tidak aktif menggunakan otak dan kemampuannya," katanya.
Di sisi lain, ia mengaku bangga karena melihat OMK di wilayahnya tetap aktif misa di gereja dan doa pribadi di gua Maria.
Anak muda di Kedang, kata dia, dikenal sebagai pekerja keras sekaligus pendoa.
“Artinya, OMK atau anak muda adalah para pendoa, ora et labora, berdoa dan bekerja,” ungkapnya.
Romo Edi menjelaskan semua jenis pekerjaan dapat dilakukan oleh orang muda.
Karena itu, ia berharap generasi muda diberi ruang yang lebih besar untuk berkembang dan berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat maupun gereja.
Dari berbagai catatan tersebut, ia menyimpulkan bahwa keberadaan orang muda sangat penting bagi masa depan masyarakat.
“Kalau orang melihat secara keseluruhan, orang muda itu penting,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Romo Edi juga menyinggung kebiasaan masyarakat Kedang yang dinilainya tidak mudah menjual tanah warisan keluarga.
Menurut Romo Edi, kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah daerah lain, di mana banyak orangtua terpaksa menjual tanah demi membiayai pendidikan anak.
Ia mencontohkan, di beberapa daerah banyak keluarga menjual tanah untuk ongkos sekolah anak.
Namun, setelah anak menyelesaikan pendidikan dan wisuda, mereka justru harus tinggal di kos karena tidak lagi memiliki tanah warisan orang tua yang tersisa.
Pada hari kedua kegiatan, Minggu (10/5), OMK Paroki Salib Suci Hoelea melanjutkan agenda penyusunan program kerja tahun 2026 serta penanaman simbolis enam pohon malapari di Pantai Angarlaleng.
Berbagai rencana kegiatan disusun untuk dijalankan hingga Desember 2026. Program tersebut meliputi drama Natal, kegiatan olahraga, kunjungan ke Paroki Wulandoni, hingga pameran arsip sejarah Gereja Katolik Paroki Hoelea.
Dalam proses penyusunan program kerja, para peserta tampak antusias berdiskusi dan menyampaikan gagasan.
Seluruh rangkaian kegiatan ini disebut sebagai bagian dari proses pembentukan diri orang muda Katolik.
Kegiatan tersebut turut didukung oleh berbagai pihak, mulai dari unsur Dewan Pastoral Paroki Hoelea, Dewan Stasi Hobamatan, pemerintah desa, hingga umat stasi setempat.
Hadir pula Ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Lembata, Gaspar Apelaby.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa organisasi Pemuda Katolik tidak hanya berbicara mengenai kehidupan rohani, tetapi juga kesaksian hidup umat Katolik dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya.
Akses Jalan Rusak
Meski akses jalan kabupaten dari pusat Desa Mahal II menuju Pantai Angarlaleng dalam kondisi rusak berat dan dinilai membahayakan pengguna jalan, OMK Paroki Salib Suci Hoelea tetap memilih lokasi tersebut sebagai tempat pelaksanaan kegiatan.
Bahkan, menurut panitia, sebelumnya sudah ada dua kegiatan paroki yang juga menjadikan Pantai Angarlaleng sebagai "rumah".
Warga setempat berharap Pemerintah Kabupaten Lembata dapat memberikan perhatian serius terhadap akses jalan menuju kawasan wisata tersebut.
Mereka menilai potensi Pantai Angarlaleng sangat besar untuk dikembangkan, namun terkendala kondisi jalan kabupaten yang telah lama dibiarkan rusak berat. ** (RO)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi