Penanganan Stunting di Ruteng Terkendala Pemahaman Orang Tua dan Keterbatasan Alat Ukur

Redaksi HighlightNTT
Dilihat 60x
Waktu Baca ± 3 Min
Bagikan Artikel
Penanganan Stunting di Ruteng Terkendala Pemahaman Orang Tua dan Keterbatasan Alat Ukur
Kepala Puskesmas Cancar, Valeria Daima Kredit: Hafiz/HighlightNTT

Ruteng, HighlightNTT- Upaya penanganan dan percepatan penurunan angka stunting di wilayah Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, menghadapi tantangan multidimensi.

Selain masalah pemenuhan gizi dan pola asuh di tingkat rumah tangga, ketidakakuratan alat ukur di Posyandu hingga rendahnya kesadaran orang tua menjadi kendala utama di lapangan.

Dinamika Angka dan Pola Asuh Balita

Berdasarkan data pengukuran berkala Puskesmas Cancar, prevalensi stunting di Kecamatan Ruteng mencatatkan penurunan dari 408 kasus pada Agustus 2025 menjadi 309 kasus pada Februari 2026, dan berada di angka 210 kasus pada Agustus 2026.

Penurunan jumlah kasus pada pengukuran Agustus 2026 tersebut sebagian turut dipengaruhi oleh tidak hadirnya sejumlah balita di Posyandu akibat situasi bencana gempa bumi saat jadwal penimbangan berlangsung.

Dari seluruh wilayah di Kecamatan Ruteng, Desa Pong Murung tercatat sebagai daerah dengan angka kasus stunting tertinggi pada periode Februari 2026 sebesar 100.

Kepala Puskesmas Cancar, Valeria Daima, menggarisbawahi bahwa kondisi ini sangat dipengaruhi oleh pola asuh serta pemahaman pemberian gizi anak yang belum sesuai dengan standar kesehatan.

"Kalau dari saya sebagai petugasnya, yang pertama itu mungkin pola asuh. Pemberian makanannya itu tidak sesuai dengan standar, dikasih makan asal kenyang saja, tapi kandungan gizinya tidak diperhatikan," ujar Valeria di Ruteng, Selasa, 20 Oktober 2026.

Valeria menjelaskan bahwa indikasi stunting pada anak terbanyak mulai terlihat saat balita memasuki fase MPASI. Di sisi lain, pelaksanaan program intervensi gizi seperti Makan Bergizi Gratis juga dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap kenaikan berat badan balita secara langsung.

"Anak-anak itu mereka hanya datang mengambil saja MBG-nya, nanti dimakannya di rumah. Jadi kita tidak tahu apakah MBG-nya dimakan sama anaknya atau bagaimana," kata Valeria menambahkan.

Rendahnya Kesadaran dan Kendala Alat Timbang Posyandu

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Desa Pong Murung, Wilfridus Ahat, menyatakan bahwa tingginya jumlah kasus stunting di wilayahnya sejalan dengan jumlah populasi warga Desa Pong Murung yang merupakan salah satu yang terbesar di Kecamatan Ruteng. Saat ini, angka kasus di desa tersebut telah berhasil ditekan hingga berada di bawah 100 kasus.

Wilfridus menilai bahwa kendala terbesar dalam penanganan stunting berakar pada rendahnya pemahaman internal keluarga dan pemikiran bahwa urusan kesehatan anak hanya menjadi tanggung jawab pihak tertentu.

"Pertama kurang kesadaran. Lalu pemahaman terhadap masalah stunting dari orang tua yang bersangkutan masih sangat rendah. Artinya, penanganan internal keluarganya itu masih tergantung ke orang tertentu, misalnya menjadi urusan laki-laki atau suami saja," ungkap Wilfridus Ahat, belum lama ini.

Selain faktor pemahaman warga, Wilfridus menyoroti kendala teknis pada sarana kesehatan di Posyandu maupun Polindes, khususnya alat ukur dan timbangan balita yang mengalami kerusakan.

"Faktor lain adalah kurangnya sarana prasarana kesehatan, terutama berkaitan dengan kebutuhan yang ada di Posyandu, di situ kan kadang alatnya rusak, lalu kadang ada alatnya tidak ada. Misalnya, alat timbang, ada kalanya karena alatnya error, maka berlakulah perkiraan," jelas Wilfridus.

Wilfridus menegaskan bahwa pemerintah desa bersama tenaga kesehatan dan kader Posyandu telah berulang kali memberikan sosialisasi pencegahan stunting secara langsung kepada masyarakat.

Intervensi Kesehatan dan Target Penurunan

Pihak Puskesmas Cancar terus mengoptimalkan upaya pencegahan stunting melalui pemberian Tablet Tambah Darah bagi remaja putri dan ibu hamil, distribusi Makanan Tambahan bagi balita gizi kurang dan gizi buruk, serta pemberian obat cacing.

Valeria Daima berharap sinergi lintas sektor dan pendampingan dari pemerintah desa dapat berjalan lebih optimal, dengan target menekan angka stunting di wilayah kerja Puskesmas Cancar hingga di bawah 15 persen. **(Hafiz/HighlightNTT)

Reaksi Pembaca:

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan