Penanganan Stunting di Ruteng Terkendala Pemahaman Orang Tua dan Keterbatasan Alat Ukur
Ruteng, HighlightNTT- Upaya penanganan dan percepatan penurunan angka stunting di wilayah Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, menghadapi tantangan multidimensi.
Selain masalah pemenuhan gizi dan pola asuh di tingkat rumah tangga, ketidakakuratan alat ukur di Posyandu hingga rendahnya kesadaran orang tua menjadi kendala utama di lapangan.
Dinamika Angka dan Pola Asuh Balita
Berdasarkan data pengukuran berkala Puskesmas Cancar, prevalensi stunting di Kecamatan Ruteng mencatatkan penurunan dari 408 kasus pada Agustus 2025 menjadi 309 kasus pada Februari 2026, dan berada di angka 210 kasus pada Agustus 2026.
Penurunan jumlah kasus pada pengukuran Agustus 2026 tersebut sebagian turut dipengaruhi oleh tidak hadirnya sejumlah balita di Posyandu akibat situasi bencana gempa bumi saat jadwal penimbangan berlangsung.
Dari seluruh wilayah di Kecamatan Ruteng, Desa Pong Murung tercatat sebagai daerah dengan angka kasus stunting tertinggi pada periode Februari 2026 sebesar 100.
Kepala Puskesmas Cancar, Valeria Daima, menggarisbawahi bahwa kondisi ini sangat dipengaruhi oleh pola asuh serta pemahaman pemberian gizi anak yang belum sesuai dengan standar kesehatan.
"Kalau dari saya sebagai petugasnya, yang pertama itu mungkin pola asuh. Pemberian makanannya itu tidak sesuai dengan standar, dikasih makan asal kenyang saja, tapi kandungan gizinya tidak diperhatikan," ujar Valeria di Ruteng, Selasa, 20 Oktober 2026.
Valeria menjelaskan bahwa indikasi stunting pada anak terbanyak mulai terlihat saat balita memasuki fase MPASI. Di sisi lain, pelaksanaan program intervensi gizi seperti Makan Bergizi Gratis juga dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap kenaikan berat badan balita secara langsung.
"Anak-anak itu mereka hanya datang mengambil saja MBG-nya, nanti dimakannya di rumah. Jadi kita tidak tahu apakah MBG-nya dimakan sama anaknya atau bagaimana," kata Valeria menambahkan.
Rendahnya Kesadaran dan Kendala Alat Timbang Posyandu
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Desa Pong Murung, Wilfridus Ahat, menyatakan bahwa tingginya jumlah kasus stunting di wilayahnya sejalan dengan jumlah populasi warga Desa Pong Murung yang merupakan salah satu yang terbesar di Kecamatan Ruteng. Saat ini, angka kasus di desa tersebut telah berhasil ditekan hingga berada di bawah 100 kasus.
Wilfridus menilai bahwa kendala terbesar dalam penanganan stunting berakar pada rendahnya pemahaman internal keluarga dan pemikiran bahwa urusan kesehatan anak hanya menjadi tanggung jawab pihak tertentu.
"Pertama kurang kesadaran. Lalu pemahaman terhadap masalah stunting dari orang tua yang bersangkutan masih sangat rendah. Artinya, penanganan internal keluarganya itu masih tergantung ke orang tertentu, misalnya menjadi urusan laki-laki atau suami saja," ungkap Wilfridus Ahat, belum lama ini.
Selain faktor pemahaman warga, Wilfridus menyoroti kendala teknis pada sarana kesehatan di Posyandu maupun Polindes, khususnya alat ukur dan timbangan balita yang mengalami kerusakan.
"Faktor lain adalah kurangnya sarana prasarana kesehatan, terutama berkaitan dengan kebutuhan yang ada di Posyandu, di situ kan kadang alatnya rusak, lalu kadang ada alatnya tidak ada. Misalnya, alat timbang, ada kalanya karena alatnya error, maka berlakulah perkiraan," jelas Wilfridus.
Wilfridus menegaskan bahwa pemerintah desa bersama tenaga kesehatan dan kader Posyandu telah berulang kali memberikan sosialisasi pencegahan stunting secara langsung kepada masyarakat.
Intervensi Kesehatan dan Target Penurunan
Pihak Puskesmas Cancar terus mengoptimalkan upaya pencegahan stunting melalui pemberian Tablet Tambah Darah bagi remaja putri dan ibu hamil, distribusi Makanan Tambahan bagi balita gizi kurang dan gizi buruk, serta pemberian obat cacing.
Valeria Daima berharap sinergi lintas sektor dan pendampingan dari pemerintah desa dapat berjalan lebih optimal, dengan target menekan angka stunting di wilayah kerja Puskesmas Cancar hingga di bawah 15 persen. **(Hafiz/HighlightNTT)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi
Cari Berita
Trending NTT
Bupati SBD Turun Langsung ke SPBU, Batasi Pembelian BBM
Polisi Sisir Rumah Kos di Kupang, Tiga Penghuni Jalani Tes Urine, ini Hasilnya
Bantu Keluarga Pasien dari Kampung, Junaidin Hadirkan Rumah Singgah di Borong
Pulang dari Dubai dalam Kondisi Sakit, PMI Asal Ende Jalani Perawatan di Kupang
Sebelas PMI Dideportasi dari Malaysia Tiba di Kupang, Satu Orang Pulang Cuti dari Singapura
Sambut Hari Pangan Sedunia 2026, Bulog Gelar Gerakan Pangan Murah di Sumba
Festival Budaya Oebufu 2026, 53 Peserta Unjuk Kreativitas, UMKM Raup Peluang Usaha
Maraknya Kendaraan Pelat Luar dan Bodong di Manggarai Picu Antrean BBM hingga Tekan PAD
Tak Hanya Merawat Budaya, Festival Oebufu Gerakkan Ekonomi Warga
Kasus HIV/AIDS di Manggarai Didominasi Usia Produktif, KPAD Genjot Sosialisasi