dr. Icha Pakaenoni Meninggal Dunia, Keluarga Ungkap Sempat Alami Tekanan Psikologis

Redaksi HighlightNTT
Dilihat 122x
Waktu Baca ± 4 Min
Bagikan Artikel
dr. Icha Pakaenoni Meninggal Dunia, Keluarga Ungkap Sempat Alami Tekanan Psikologis
dr. Icha Pakaenoni Kredit: FB Icha Pakaenoni

Kefamenanu- Seorang dokter muda bernama dr. Icha Pakaenoni di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal dunia pada Jumat (26/6/2026) sekitar pukul 18.30 Wita.

Sebelum meninggal, dr. Icha diduga mengalami intimidasi saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu yang melibatkan dua anggota DPRD TTU.

Kabar duka tersebut dibenarkan oleh paman almarhumah, Victor Manbait, setelah menerima informasi dari ayah dr. Icha, Gabriel Pakaenoni, yang berada di Kupang.

"Selamat malam rekan-rekan media, pukul 18.30 sore ini saya mendapat kabar dari Bapak Gabriel Pakaenoni (ayah korban) dari Kupang, kalau dokter Icha telah berpulang ke rumah Bapa di surga," ujar Victor kepada wartawan melalui pesan WhatsApp, Jumat (26/6/2026).

Victor mengatakan, hingga saat ini penyebab pasti meninggalnya dr. Icha belum diketahui dan masih menunggu hasil penanganan medis.

"Belum diketahui penyebab meninggalnya," katanya

Diduga Mengalami Intimidasi Saat Bertugas

Kasus ini sebelumnya menjadi perhatian publik setelah dr. Icha diduga mengalami intimidasi ketika sedang menjalankan tugas di IGD RS Leona Kefamenanu.

Menurut keterangan keluarga, saat itu dr. Icha memberikan pelayanan kepada pasien sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) serta arahan dokter spesialis anak.

Persoalan bermula ketika keluarga pasien meminta pemberian vaksin tertentu yang secara medis belum direkomendasikan dan tidak tersedia di rumah sakit.

Tidak lama kemudian, dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD TTU mendatangi ruang perawatan dan meminta penjelasan dengan nada tinggi. Salah seorang di antaranya disebut menunjuk wajah dr. Icha saat berbicara.

Victor mengungkapkan bahwa setelah peristiwa tersebut, keponakannya mengalami tekanan psikologis.

"Dokter Icha mengaku masih mengalami ketakutan dan tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas," kata Victor.

Ia menjelaskan, tekanan tersebut membuat dr. Icha menangis saat menjalankan tugas. Kondisinya kemudian terus menurun hingga akhirnya ditemukan dalam keadaan lemah di tempat tinggalnya dan harus mendapatkan penanganan medis sebelum dinyatakan meninggal dunia.

DPRD TTU Bantah Lakukan Intimidasi

Dua anggota DPRD TTU yang disebut dalam peristiwa tersebut, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah telah melakukan intimidasi terhadap tenaga medis.

"Kami tidak pernah berniat mengintimidasi tenaga medis. Informasi yang beredar tidak sesuai fakta yang sebenarnya terjadi," kata Therensius.

Therensius menjelaskan, peristiwa itu bermula ketika keponakannya yang menjadi korban gigitan ular hijau dibawa ke RSUD Kefamenanu pada 13 Juni 2026 sekitar pukul 12.50 Wita.

Karena rumah sakit tidak memiliki dokter bedah dan serum antibisa ular, pasien kemudian dirujuk ke RS Leona.

Menurutnya, pihak keluarga saat itu panik karena pasien masih merasakan sakit dan belum memperoleh penjelasan yang dianggap memadai.

"Kami akui dalam situasi itu nada bicara kami memang sempat meninggi karena panik melihat kondisi pasien. Tetapi sama sekali tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter," katanya.

Ia mengatakan, situasi akhirnya mereda setelah dokter lain menjelaskan bahwa darah pasien tidak terkontaminasi bisa ular dan serum antibisa ular memang tidak tersedia di rumah sakit.

Norbertus Tubani menambahkan, setelah memperoleh penjelasan secara lengkap, mereka menyampaikan permintaan maaf kepada Direktur RS Leona, dokter, serta tenaga kesehatan yang bertugas di IGD.

"Pasien sudah membaik setelah tiga hari dirawat dan kini telah kembali ke rumahnya di Kiupukan," kata Norbertus.

Pemda TTU Dukung Langkah Hukum Keluarga

Sementara itu, Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, mengaku baru menerima informasi terkait meninggalnya dr. Icha.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten TTU mendukung setiap langkah hukum yang akan ditempuh keluarga almarhumah apabila dinilai perlu.

"Dari pihak pemerintah mendukung segala upaya yang akan diambil oleh keluarga almarhumah dr. Icha terhadap anggota DPR ini," katanya.

Bupati Falentinus mengutarakan alasannya bahwa pemerintah tidak mau ke depannya akan terjadi dokter takut untuk bertugas di TTU.

"Pemerintah saat ini sedang berupaya keras memberikan rasa aman kepada para dokter yang bertugas di TTU, karena kami sadar akan kurangnya minat dokter ke TTU," tulis Bupati Yosep Falentinus Delasalle Kebo melalui pesan WhatsApp. ** (Tim)

Reaksi Pembaca:

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan