Digitalisasi Kampung Adat Duarato jadi Strategi Pelestarian Budaya di Perbatasan RI–Timor Leste
Belu– Sebuah inisiatif strategis dalam pelestarian budaya berbasis teknologi digital akan segera dilaksanakan di Kampung Adat Duarato, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Program yang berlangsung dari Maret hingga September 2026 ini menjadi bagian dari upaya literasi budaya dan pelestarian warisan leluhur bagi generasi muda, khususnya di kawasan perbatasan Indonesia dengan Timor Leste.
"Kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat tersebut dipimpin oleh Kepala Perpustakaan STIKOM Artha Buana Kupang, Thomas A. Korohama Dasion," jelas dalam keterangan tertulis STIKOM Artha Buana kepada HighlightNTT, Rabu, 24 Juni 2024.
Dijelaskan bahwa, tim pelaksana terdiri atas tenaga perpustakaan, dosen peneliti, serta pelaksana pengabdian kepada masyarakat dari STIKOM Artha Buana Kupang.
Keterlibatan tenaga perpustakaan menjadi nilai tambah karena memiliki peran strategis dalam pengelolaan, dokumentasi, dan diseminasi informasi budaya yang dihimpun selama proses digitalisasi.
Program ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Daerah Kabupaten Belu yang memandang Kampung Adat Duarato sebagai salah satu aset budaya unggulan di wilayah perbatasan.
"Dukungan juga diberikan oleh pimpinan STIKOM Artha Buana Kupang sebagai wujud komitmen institusi dalam mendukung pembangunan daerah melalui transformasi digital," jelasnya.
Selain itu, kolaborasi erat juga dibangun bersama Pemerintah Desa Duarato sebagai mitra utama pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Berbagai koordinasi telah dilakukan guna memastikan program berjalan selaras dengan kebutuhan masyarakat serta tetap menghormati nilai-nilai dan kearifan lokal yang hidup di lingkungan adat setempat.
Untuk diketahui, Kampung Adat Duarato dikenal sebagai salah satu kampung adat yang masih mempertahankan pola ruang dan arsitektur tradisionalnya.
Kampung tersebut terletak sekitar 43,5 kilometer dari Kota Atambua dan berada di kawasan perbatasan Republik Indonesia dengan Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL), kampung ini menyimpan kekayaan sejarah, budaya, serta tradisi yang terus dijaga oleh masyarakatnya.
Posisi geografis tersebut menjadikan Duarato sebagai kawasan strategis yang memiliki hubungan kekerabatan dan kedekatan historis yang kuat antara masyarakat di kedua negara.
Salah satu aspek penting dalam program ini adalah pelibatan mahasiswa STIKOM Artha Buana Kupang melalui program magang yang akan ditempatkan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Belu.
Program tersebut diharapkan mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya memiliki kompetensi di bidang teknologi informasi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya.
Melalui pengalaman langsung di Kampung Adat Duarato, mahasiswa diharapkan dapat memahami nilai-nilai budaya lokal sekaligus mengaplikasikan kemampuan teknologi untuk mendukung upaya pelestariannya.
Kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Selama tujuh bulan pelaksanaan, program akan dilakukan secara bertahap dan terukur. Tahapan kegiatan meliputi identifikasi dan inventarisasi budaya, dokumentasi digital, pelatihan kepada masyarakat adat, hingga penyusunan basis data budaya Kampung Adat Duarato.
Digitalisasi kampung adat dinilai sebagai salah satu strategi efektif dalam memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya tradisional di tengah perkembangan teknologi.
Berbagai bentuk dokumentasi digital, seperti video, e-book, audio visual, dan basis data budaya, akan digunakan untuk mengabadikan ritual adat, kesenian, tarian tradisional, hingga cerita rakyat yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Duarato.
"Praktik pelestarian budaya berbasis digital tersebut diharapkan dapat menjadi model pengembangan budaya di kawasan perbatasan," imbuhnya.
Keberhasilannya sangat bergantung pada kolaborasi antara komunitas adat, pemangku adat, sekolah, peneliti, pemerintah, perguruan tinggi, serta media dalam mendokumentasikan dan menyebarluaskan kekayaan budaya kepada generasi mendatang. ** (EM)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi