LLDIKTI XV Tantang 29 Wisudawan STIKOM Artha Buana Ciptakan Inovasi Digital

Redaksi HighlightNTT
Dilihat 88x
Waktu Baca ± 5 Min
Bagikan Artikel
LLDIKTI XV Tantang 29 Wisudawan STIKOM Artha Buana Ciptakan Inovasi Digital
Kepala Bagian Umum Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV, Agustinus M.B.P. Fahik saat membacakan sambutan di acara wisuda STIKOM Artha Buana Kupang, Grand Mutiara, Jumat, 30 Oktober 2026. Kredit: Dok. EB/HighlightNTT

Kupang, HighlightNTT- Sekolah Tinggi Informatika Komputer (STIKOM) Artha Buana Kupang mewisuda 29 sarjana komputer dalam prosesi yang berlangsung di Grand Mutiara Ballroom, Jumat, 30 Oktober 2026.

Para lulusan diminta mengembangkan kemampuan dan pengetahuan di bidang teknologi informasi untuk menciptakan inovasi serta menjawab kebutuhan masyarakat di tengah pesatnya perkembangan industri digital.

Pesan tersebut disampaikan Agustinus M.B.P. Fahik, Kepala Bagian Umum Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV, saat membacakan sambutan mewakili Kepala LLDIKTI Wilayah XV Nusa Tenggara Timur, Prof. Dr. Adrianus Amheka.

Menurut dia, kelulusan dan perolehan gelar sarjana bukan semata-mata perayaan berakhirnya masa studi. Para wisudawan kini menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi sekaligus tanggung jawab lebih besar untuk berkontribusi bagi pembangunan.

"Dari 244 juta penduduk Indonesia, baru 11 persen yang berusia 19 tahun ke atas lulus perguruan tinggi. Adik-adik dari 29 orang ini adalah bagian dari 11 persen itu," ujar dia.

Ia merujuk Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 yang menunjukkan bahwa sekitar 11 persen penduduk Indonesia telah mengenyam pendidikan tinggi.

Kelompok tersebut, menurut dia, memiliki peran penting sebagai penggerak inovasi dan perubahan pembangunan.

Agustinus menjelaskan, ada tiga kontribusi utama yang perlu diberikan lulusan perguruan tinggi untuk mendorong kemajuan Indonesia.

Pertama, mengoptimalkan bonus demografi. Lulusan perguruan tinggi harus memiliki kualitas dan daya ungkit yang kuat agar mampu menggerakkan potensi 89 persen penduduk lainnya.

Kedua, mempersempit gep antara dunia akademis dan realitas masyarakat. Ia mengingatkan agar hasil penelitian perguruan tinggi tidak hanya berhenti sebagai publikasi di jurnal atau tersimpan di perpustakaan, tetapi harus diwujudkan menjadi solusi nyata yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ketiga, memperkuat kapasitas daerah. Lulusan perguruan tinggi diharapkan bersedia dan mampu membangun daerah dengan memanfaatkan potensi lokal sehingga pemerataan pembangunan dapat terwujud.

Ia juga menyoroti tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif. Saat ini, Indonesia memiliki sekitar 4.300 perguruan tinggi dengan jumlah lulusan mencapai 1,2 juta hingga 1,3 juta orang setiap tahun.

Namun, jumlah lapangan pekerjaan di sektor formal belum sebanding dengan jumlah pencari kerja, termasuk lulusan perguruan tinggi.

Persaingan juga semakin ketat karena penggunaan mesin otomatisasi dan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang mulai menggantikan sejumlah pekerjaan manusia.

"Jumlah lapangan pekerjaan di sektor formal tidak sebanding dengan pencari kerja, termasuk lulusan perguruan tinggi yang masih harus bersaing dengan penggunaan mesin otomatis dan artificial intelligence atau kecerdasan buatan yang menggantikan sebagian pekerjaan manusia," kata dia.

Meski begitu, ia meminta para lulusan informatika tidak patah semangat. Menurut dia, ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di STIKOM Artha Buana tetap memiliki peluang besar untuk dikembangkan, terutama dalam dunia bisnis digital.

Agus Fahik mencontohkan sejumlah perusahaan berbasis teknologi yang berhasil mengubah pola bisnis konvensional.

Grab dan Gojek, misalnya, berkembang menjadi perusahaan transportasi berbasis aplikasi tanpa harus memiliki seluruh armada kendaraan sendiri.

Hal serupa dilakukan Shopee dan Tokopedia yang menjadi pusat perdagangan digital tanpa harus memiliki toko fisik sendiri.

Sementara Traveloka menyediakan layanan pemesanan tiket perjalanan dan penginapan tanpa harus memiliki armada transportasi maupun bangunan hotel.

Menurut dia, keberhasilan perusahaan-perusahaan tersebut terletak pada penguasaan aplikasi, sistem, logika pemrograman, dan pengelolaan data.

Aspek-aspek itu merupakan bagian dari pengetahuan yang telah dipelajari dan ditekuni mahasiswa selama menjalani pendidikan di STIKOM.

Ia mengatakan perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Kecerdasan buatan, ilmu data (data science), dan keamanan siber (cyber security) kini turut mengubah wajah industri global.

Oleh karena itu, lulusan STIKOM tidak hanya membawa pulang ijazah, tetapi juga bekal kemampuan membangun sistem, mengelola data, memahami kebutuhan pasar, serta mengembangkan inovasi digital.

"Sebagai lulusan STIKOM, kalian tidak hanya membawa pulang selembar ijazah, melainkan kemampuan membangun sistem, mengelola data, dan memahami kebutuhan pasar. Kalian membawa kunci masa depan, yakni keterampilan digital dan kemampuan berinovasi," kata dia.

Ia berharap para lulusan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menciptakan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Mereka juga didorong untuk berwirausaha, mengembangkan usaha sendiri, menjadi kreator konten atau influencer, hingga menciptakan aplikasi yang menjawab kebutuhan publik.

"Maka, gunakan ilmu tersebut untuk menciptakan solusi. Kita dapat membuat usaha sendiri, menjadi influencer, atau menciptakan aplikasi yang bermanfaat bagi masyarakat," harap dia.

Pemerintah NTT Dorong Lulusan Berkontribusi bagi Daerah

Sementara itu, Plt. Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Zet Sony Libing, mewakili Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, mengatakan wisuda bukanlah akhir dari perjalanan belajar, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

Menurut dia, gelar sarjana harus menjadi modal bagi lulusan untuk bekerja dan memberikan manfaat bagi orang lain. "Gelar sarjana hendaknya menjadi berkat untuk bekerja dan menjadi saluran berkat bagi sesama," kata Zet.

Ia menilai ilmu informatika yang dipelajari para wisudawan merupakan pengetahuan yang dibutuhkan dalam berbagai sektor pekerjaan.

Ia berkata, kebutuhan terhadap kompetensi teknologi informasi tidak hanya terdapat di perusahaan swasta, tetapi juga di lingkungan pemerintahan.

"Lapangan pekerjaan apa pun, di kantor-kantor pemerintahan, membutuhkan ilmu ini," sebut dia.

Zet mengatakan para lulusan STIKOM Artha Buana telah menempuh pendidikan di bidang yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.

Oleh karena itu, ia meminta mereka percaya diri menghadapi persaingan dan mengembangkan kompetensi yang dimiliki.

"Jadi, anak-anakku semua, kalian berada di tempat yang tepat dan memiliki pengetahuan yang sangat mumpuni," kata dia.

Ia juga menegaskan bahwa kompetensi para lulusan STIKOM Artha Buana memiliki keterkaitan dengan arah kebijakan pembangunan Pemerintah Provinsi NTT, terutama dalam mendorong transformasi digital.

Pemerintah, kata dia, tengah berupaya membangun NTT yang semakin digital, dengan akses komunikasi yang merata dan konektivitas yang lancar. **(EB)

Reaksi Pembaca:

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan