Kepala BP3MI NTT: Pengangguran Terbuka di NTT Capai 102.428 Orang

Emanuel Boli
Dilihat 79x
Waktu Baca ± 4 Min
Bagikan Artikel
Kepala BP3MI NTT: Pengangguran Terbuka di NTT Capai 102.428 Orang
Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Nusa Tenggara Timur (NTT), Suratmi Hamida saat membawakan sambutan di Hotel Harper Kupang, Selasa, 9 Juni 2026 Kredit: Dok. HighlightNTT/EB

Kupang- Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Nusa Tenggara Timur (NTT), Suratmi Hamida, mengungkapkan bahwa angka pengangguran terbuka di NTT saat ini mencapai 102.428 orang, termasuk lulusan sarjana yang belum memperoleh pekerjaan.

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Peluang Kerja Luar Negeri dan Migrasi Aman yang diselenggarakan melalui kerja sama Workshop FED & Ausbildung GIZ Jerman Indonesia dengan Universitas San Pedro Kupang, di Hotel Harper Kupang, Selasa, 9 Juni 2026 pukul 09.37 WITA.

Ia menuturkan, tingginya angka pengangguran menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama yang harus segera diatasi melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan pemanfaatan peluang kerja yang tersedia, baik di dalam maupun luar negeri.

“Sarjana menganggur di NTT, pengangguran terbuka adalah 102.428 orang yang hari ini menjadi PR kita bersama,” ujar Suratmi.

Ia mengapresiasi kerja sama antara Universitas San Pedro dan GIZ Jerman Indonesia sebagai langkah strategis dalam membuka akses informasi, meningkatkan kompetensi calon pekerja migran Indonesia (PMI), serta memperluas peluang kerja yang aman, legal, dan bermartabat.

Suratmi menjelaskan bahwa NTT masih menjadi salah satu kantong utama pekerja migran Indonesia, tetapi 90 persen angka penempatan pekerja migran masih didominasi oleh sektor domestik.

“Negara penempatan khususnya ke Malaysia masih didominasi pekerja dengan tingkat pendidikan sekolah dasar (SD) sekitar 75 persen. Selain itu, penempatan juga lebih banyak diisi oleh perempuan, khususnya para ibu-ibu," tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Suratmi juga menyebutkan pola pikir sebagian generasi muda NTT yang masih enggan keluar dari zona nyaman dan kurang berupaya meningkatkan keterampilan.

Ia menegaskan bahwa dunia kerja saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada ijazah, melainkan lebih menekankan pada kompetensi yang dimiliki seseorang.

"PR anak muda NTT, pertama adalah gengsi. Terlalu nyaman di zona nyaman, tidak mau belajar," katanya.

Ia menyayangkan ketika ada peluang karier, hanya diisi oleh orang-orang luar NTT, dan orang NTT cuma jadi "tamu". Sebab, tahun 2026 yang lulus PNS di instansi vertikal, 90 persen dari diisi orang luar NTT.

"Tahun ini yang lulus PNS, di instansi vertikal, 90 itu dari anak-anak luar NTT, termasuk di tempat saya, tidak satu pun anak NTT. Kenapa? karena kompetensi kita. Karena yang tes itu kompetensi. Kita nyaman dengan ijazah dan tidak dibekali dengan kompetensi, adik akan jadi tamu di rumah sendiri," ujar Suratmi.

Karena itu, Suratmi mengajak generasi muda NTT untuk terus mengembangkan kemampuan diri dan memanfaatkan berbagai peluang yang disediakan pemerintah maupun lembaga mitra.

“Mari kita meng-upgrade diri, dobrak diri kita dari ketidaknyamanan. Tidak ada yang menolong diri kita, kecuali diri kita sendiri,” katanya.

Ia berharap kegiatan sosialisasi tersebut dapat, NTT harus naik kelas dari peningkatan bahwa peluang kerja sektor domestik itu adalah makin banyak penempatan sektor formal.

Peluang Kerja Terampil di Jerman

Sementara itu, Perwakilan GIZ ZME Indonesia, Jesika Iren Wibowo, mengatakan pihaknya sebagai mitra Pemerintah Jerman di Indonesia menjalankan program penguatan tata kelola migrasi dan ketenagakerjaan yang aman.

Ia mengatakan, GIZ berkomitmen mendukung Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) dan BP3MI dalam melakukan advokasi migrasi aman bagi calon pekerja migran Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa kebutuhan tenaga kerja di Jerman saat ini cukup tinggi, terutama untuk pekerjaan yang membutuhkan keterampilan.

“Peluang kerja di luar negeri, termasuk di Jerman, terus berkembang. Kebutuhan tenaga kerja terampil sangat tinggi, namun harus diimbangi kemampuan bahasa yang memadai, pemahaman mengenai peluang kerja, dan kompetensi yang sesuai,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas San Pedro Kupang, Dr. Bertolomeus Bolong, M.Si, mengatakan kegiatan sosialisasi tersebut merupakan implementasi dari nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani Universitas San Pedro bersama GIZ Jerman sekitar tiga bulan lalu.

Ia mengatakan, Universitas San Pedro tidak hanya berfokus pada pendidikan akademik, tetapi juga membuka akses dan peluang kerja bagi mahasiswa serta alumni melalui kerja sama dengan berbagai lembaga, baik di dalam maupun luar negeri.

“Kami tidak hanya mendidik generasi muda menjadi cerdas, kreatif, inovatif, produktif, dan mandiri, tetapi juga membuka peluang kerja melalui berbagai kemitraan,” katanya.

Ia juga menyebutkan masih tingginya angka tenaga kerja terdidik yang belum bekerja di NTT, termasuk lulusan sarjana. Karena itu, Universitas San Pedro terus berupaya membangun kerja sama dengan berbagai institusi untuk membuka kesempatan magang, pelatihan, dan penempatan kerja bagi mahasiswa maupun alumni.

Menurut Bertolomeus, kerja sama internasional bukan hal baru bagi Universitas San Pedro. Sebelumnya, kampus tersebut telah mengirim mahasiswa untuk mengikuti program magang ke Israel dan Jepang.

“Banyak peluang kerja yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa dan alumni. Namun semuanya harus dilakukan sesuai aturan dan memenuhi persyaratan yang berlaku,” ujarnya.

Kegiatan Sosialisasi Peluang Kerja Luar Negeri dan Migrasi Aman berlangsung di Hotel Harper Kupang mulai pukul 08.00 WITA hingga selesai dan diikuti sekitar 120 peserta.

Peserta terdiri atas pimpinan dan pegawai Universitas San Pedro, mahasiswa dan alumni Universitas San Pedro, mahasiswa Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Universitas Muhammadiyah Kupang, Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang, Universitas Citra Bangsa, serta BP3MI NTT. ** (EB)

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan