Ayah dr. Icha Pakaenoni: Kebenaran dan Keadilan Tidak Boleh Didiamkan
Kupang- Ribuan pelayat memadati rumah duka dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha Pakaenoni di Perumahan RSS Baumata, RT 007/RW 004, Dusun II, Desa Baumata Barat, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Sabtu (27/6/2026).
Dalam suasana duka itu, ayah almarhumah, Gabriel Pakaenoni, menegaskan bahwa kebenaran dan keadilan harus tetap ditegakkan.
"Kebenaran dan keadilan tidak boleh didiamkan, semoga Yang Di Atas memberkati kita," ujar Gabriel Pakaenoni.
Pada kesempatan tersebut, Gabriel kembali menyampaikan bahwa putri sulungnya diduga mengalami intimidasi dan intervensi dari oknum anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU) sebelum meninggal dunia.
"Kata kasarnya adalah intimidasi, intervensi, yang menyebabkan seseorang bisa jatuh. Lebih baik saya mendapatkan tindakan secara fisik daripada psikis," kata Gabriel.
Tidak lupa, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh masyarakat, keluarga, sahabat, rekan sejawat, serta berbagai pihak yang telah memberikan dukungan, dan perhatian kepada keluarga selama masa duka.
Selain itu, Gabriel turut menyampaikan permohonan maaf apabila selama proses berlangsung terdapat tutur kata maupun tindakan keluarga yang kurang berkenan.
Sementara itu, ibunda almarhumah, Nur Azizah, tidak kuasa menahan haru saat mengenang percakapan terakhir bersama putrinya.
Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, ia mengingat saat dr. Icha menghubunginya melalui telepon.
"Saya ingat anak saya menelpon, menangis, menjerit, 'Mama, saat ini saya sedang diintimidasi oleh anggota dewan'," tuturnya.
Nur Azizah mengatakan bahwa putrinya telah menjalankan tugas sebagai dokter sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).
Bahkan, sebelum mengambil tindakan medis terhadap pasien gigitan ular, dr. Icha telah berkonsultasi dengan dokter yang memiliki kompetensi di bidang penanganan bisa ular.
Menurut dia, dr. Icha juga pernah menyampaikan bahwa oknum anggota DPRD TTU Komisi III mengancam akan menghentikan praktik kedokterannya.
"Sehingga anak saya ketakutan, belum pernah berdiri pada posisi sebagai birokrat. Saya yakinkan bahwa tidak semudah itu orang membekukan praktik, baik pribadi maupun pelayanan secara umum," ujarnya.
Nur Azizah menuturkan, tekanan psikologis akibat peristiwa tersebut sangat memengaruhi kondisi putrinya hingga harus menjalani perawatan medis di sejumlah rumah sakit.
"Saya mencintai dia, saya mengasihi dia. Dalam hidup saya tidak pernah terpikir, bahkan saya tidak pernah bermimpi sekalipun hal ini terjadi pada kehidupan anak saya," ucapnya.
Di akhir penyampaiannya, Nur Azizah juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat atas perhatian dan doa yang diberikan kepada almarhumah.
"Duka ini bukan hanya duka keluarga, tetapi duka seluruh Nusantara. Saya sendiri sebagai tenaga kesehatan akan terus berjuang agar tenaga kesehatan mendapatkan perlindungan sehingga dalam memberikan pelayanan tidak ada intervensi dari pihak lain dan tidak ada intimidasi dari pihak lain," pungkasnya. ** (EB)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi