Mahasiswa KKN UMKoe Edukasi Siswa SDK Nangakeo tentang Antibullying dan Literasi
Ende- Kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Kupang (UMKoe) menggelar edukasi bertema “Stop Bullying dan Penguatan Literasi" bagi sekitar 69 siswa SDK Nangakeo, Desa Bheramari, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Selasa, 11 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung di ruang-ruang kelas SDK Nangakeo itu menyasar dua persoalan yang dinilai penting dalam pendidikan dasar, yakni kekerasan atau perundungan di antara siswa dan lemahnya budaya literasi sejak usia dini.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kerja bidang pendidikan yang dicanangkan dalam rangkaian KKN. Dalam siaran pers yang diterima, Jumat (14/8), program ini sekaligus menjadi wujud nyata visi besar Universitas Muhammadiyah Kupang dan penerapan Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah,.
Puluhan siswa mengikuti kegiatan tersebut dengan didampingi sejumlah guru serta Kepala Sekolah SDK Nangakeo, Sofia Irene, S.Pd.
Dalam sambutannya, Sofia menyampaikan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Kupang (UMKoe) dan kelompok mahasiswa KKN UMKoe yang telah meluangkan waktu memberikan edukasi mengenai stop bullying dan penguatan literasi kepada siswa-siswi SDK Nangakeo.
Menurut Sofia, tema yang diangkat mahasiswa KKN tersebut sangat sesuai dengan kondisi sekolah yang masih tidak luput dari praktik bullying dan keterbatasan literasi.
Ia berharap edukasi tersebut memberikan manfaat bagi siswa serta terus memperkuat kesadaran untuk menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman sebagai tempat belajar.
Bullying, Luka yang Sering Tidak Terlihat di Bangku Sekolah Dasar
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN menjelaskan kepada siswa mengenai pentingnya menjaga lingkungan sekolah agar terbebas dari tindakan perundungan.
Pemilihan tema bullying dinilai bukan tanpa alasan. Tindakan perundungan masih rentan terjadi di lingkungan sekolah sehingga edukasi mengenai hal tersebut dinilai perlu terus digaungkan, bukan hanya dilakukan sekali kemudian berhenti.
Jeriyanto Kelvinto Taneo, salah satu anggota Kelompok KKN Mahasiswa UMKoe, mengatakan bullying merupakan salah satu faktor yang dapat mengganggu kesehatan mental anak.
Bullying dapat membuat anak merasa sedih, mengalami kesulitan belajar, kehilangan rasa percaya diri, hingga berpotensi menimbulkan trauma berkepanjangan.
Karena dampaknya serius dan dapat terbawa hingga dewasa, menurut Jeriyanto, pencegahan bullying seharusnya dimulai sedini mungkin, sejak bangku pendidikan dasar, bukan menunggu sampai kasus membesar dan sulit dipulihkan.
Dalam paparannya, Jeri juga menekankan pentingnya peran guru untuk proaktif menjaga lingkungan sekolah yang efektif dan menciptakan rasa nyaman bagi siswa untuk belajar.
Hal tersebut dapat diwujudkan melalui aturan yang jelas dan lingkungan yang aman sehingga bullying dapat dicegah sejak awal.
Namun, menurutnya, peran guru tidak boleh berhenti sampai di situ. Hal yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran siswa agar mereka memahami apa itu bullying, bagaimana dampaknya, serta cara mengatasinya apabila suatu saat mengalami atau menyaksikan tindakan tersebut.
Pendekatan ini menunjukkan adanya pergeseran cara pandang bahwa pencegahan bullying tidak cukup hanya mengandalkan aturan dari atas ke bawah. Pencegahan juga membutuhkan kesadaran kritis dari siswa sebagai subjek yang aktif menjaga lingkungan belajarnya sendiri.
Literasi, Persoalan yang Lebih Rumit dari Sekadar “Malas Membaca”
Selain persoalan bullying, mahasiswa KKN UMKoe turut menyoroti pentingnya literasi bagi siswa SDK Nangakeo.
Program penguatan literasi tersebut lahir dari kondisi objektif yang tengah dihadapi Nusa Tenggara Timur (NTT), provinsi yang menyimpan persoalan tersendiri ketika berbicara mengenai literasi.
Dalam materi yang disampaikan, disebutkan bahwa data hasil Survei Tingkat Kegemaran Membaca yang dirilis Badan Pusat Statistik dan diumumkan pada awal 2026 mencatat NTT sebagai provinsi dengan tingkat kegemaran membaca terendah di Indonesia.
Disebutkan pula sekitar 30 persen siswa di NTT masih menghadapi kendala dalam hal baca tulis. Evaluasi dari dinas pendidikan menemukan pembelajaran di kelas masih lebih banyak berfokus pada kemampuan menghafal dasar, sementara soal-soal asesmen menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti analisis dan evaluasi.
Kondisi tersebut dinilai perlu dibaca secara jernih. Persoalan literasi tidak hanya berkaitan dengan minat membaca, tetapi juga dengan ekosistem yang mampu mengubah minat tersebut menjadi kemampuan literasi yang mumpuni.
Minat membaca saja tidak cukup jika tidak dibarengi akses terhadap bahan bacaan berkualitas, metode pengajaran yang tepat, dan pembiasaan membaca secara konsisten sejak usia dini.
Di sinilah program seperti yang digagas mahasiswa KKN UMKoe di SDK Nangakeo dinilai memiliki arti penting. Kegiatan tersebut menjadi upaya kecil tetapi konkret untuk menjembatani jarak antara semangat membaca yang sudah tumbuh dengan kemampuan literasi yang perlu terus diasah secara sistematis.
Pemerintah juga dinilai menyadari adanya kesenjangan tersebut. Provinsi NTT ditetapkan sebagai salah satu daerah prioritas penguatan literasi nasional pada 2026, dengan rencana distribusi ratusan ribu eksemplar buku bacaan bermutu ke ribuan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di seluruh NTT.
Hal itu menunjukkan bahwa persoalan literasi di NTT bukan sekadar isu lokal yang dapat diselesaikan oleh satu sekolah atau satu kelompok KKN. Persoalan tersebut membutuhkan sinergi banyak pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah hingga masyarakat sipil.
Literasi Bukan Hanya soal Membaca
Mahasiswa KKN UMKoe menegaskan kepada para siswa bahwa literasi bukan hanya berkaitan dengan kemampuan membaca.
Literasi memiliki cakupan yang lebih luas, seperti kemampuan menulis, menggambar, berbicara, memahami informasi, hingga mengolah informasi secara kritis.
Dengan demikian, literasi merupakan modal dasar bagi seseorang untuk memahami ilmu pengetahuan secara utuh. Literasi bukan sekadar kemampuan teknis mengeja huruf, melainkan kapasitas berpikir yang akan menentukan bagaimana seorang anak kelak memandang dan menghadapi dunia.
Karena cakupannya luas, penguatan literasi tidak dapat dilakukan secara sepotong-sepotong atau hanya mengandalkan satu kegiatan.
Penguatan literasi membutuhkan pembiasaan yang konsisten dan berkelanjutan, dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan anak, yakni keluarga dan sekolah.
Mengapa Penguatan Literasi Harus Dimulai dari Pendidikan Dasar?
Mahasiswa KKN UMKoe memilih siswa sekolah dasar sebagai sasaran program penguatan literasi karena usia tersebut dinilai menjadi fase penting dalam pembentukan kebiasaan.
Ama Makin, Ketua Kelompok KKN Mahasiswa UMK, menyampaikan ada tiga hal penting yang menjadi alasan penguatan literasi perlu dimulai sejak pendidikan dasar.
Pertama, usia sekolah dasar merupakan periode emas pembentukan kebiasaan. Pada rentang usia tersebut, otak anak berada dalam fase perkembangan yang responsif terhadap stimulasi, termasuk stimulasi membaca dan berpikir kritis.
Kebiasaan yang dibangun sejak dini, termasuk kebiasaan membaca, cenderung lebih mudah melekat dan bertahan hingga dewasa dibandingkan apabila baru diperkenalkan pada usia remaja atau setelahnya.
Kedua, keterampilan literasi dasar menjadi fondasi bagi seluruh proses belajar selanjutnya. Anak yang terbiasa membaca dan memahami teks sejak dini akan lebih mudah menyerap pelajaran di jenjang pendidikan berikutnya karena hampir seluruh mata pelajaran, mulai dari matematika, sains hingga ilmu sosial, pada akhirnya bertumpu pada kemampuan memahami teks dan mengolah informasi.
Ketiga, pembiasaan membaca sejak dini juga berperan penting dalam membangun empati dan kepekaan sosial anak.
"Hal tersebut relevan dengan tema besar kegiatan, yakni pencegahan bullying," ujar Ama.
Anak yang terbiasa membaca cerita dan memahami sudut pandang tokoh lain cenderung lebih mudah mengembangkan empati terhadap teman sebaya. Empati tersebut dapat menjadi salah satu tameng alami terhadap perilaku perundungan.
Membiasakan Membaca, Tugas Bersama
Menumbuhkan minat baca menjadi kemampuan literasi yang solid membutuhkan lebih dari sekadar imbauan.
Dibutuhkan ekosistem yang mendukung, mulai dari ketersediaan buku bacaan yang relevan dan menarik bagi anak, ruang baca yang nyaman di sekolah maupun di rumah, keteladanan orang tua dan guru dalam kebiasaan membaca, hingga kebijakan pendidikan yang secara konsisten memprioritaskan literasi sebagai fondasi, bukan sekadar pelengkap kurikulum.
Kelompok mahasiswa KKN UMKoe, melalui kegiatan di SDK Nangakeo, menyumbang satu bagian kecil dari bangunan besar yang harus terus dirawat bersama.
Satu kegiatan edukasi tentu tidak akan langsung mengubah angka literasi NTT secara drastis. Namun, jika semangat serupa terus direplikasi oleh mahasiswa KKN lainnya, sekolah-sekolah lain, serta pemerintah daerah yang konsisten mendukung distribusi buku dan pelatihan guru, jarak antara minat baca dan kemampuan literasi yang mumpuni bukan tidak mungkin dipersempit.
Kegiatan “Stop Bullying dan Penguatan Literasi” di SDK Nangakeo menunjukkan bahwa persoalan pendidikan dasar tidak dapat dipandang sebelah mata.
Di balik dua tema yang tampak sederhana tersebut, terdapat persoalan besar yang menyangkut kesehatan mental anak dan masa depan sumber daya manusia NTT secara keseluruhan.
Dukungan Kepala Sekolah SDK Nangakeo yang membuka langsung kegiatan tersebut menjadi sinyal positif bahwa perubahan harus dimulai dari kolaborasi antara mahasiswa yang membawa semangat baru, guru yang menjadi garda terdepan di ruang kelas, dan siswa sebagai subjek utama dari seluruh proses pendidikan.
Harapannya, semangat yang ditanamkan di SDK Nangakeo tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Semangat tersebut diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan yang terus dijaga sehingga tercipta lingkungan sekolah yang bebas dari bullying serta generasi muda NTT yang benar-benar cakap literasi. ** (H/KKN UMKoe)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi