Lusia Ditemukan Meninggal di Kali Karot, Polisi Tak Temukan Tanda Kekerasan
Manggarai, Highlight NTT- Lusia Jeria (25) perempuan asal Kampung Lengor, Desa Pinggang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal dunia di aliran kali di Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong, Selasa, 27 Oktober 2026, sekitar pukul 09.00 WITA. Polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan yang tampak pada pemeriksaan awal terhadap jenazah.
Lusia ditemukan mengapung di aliran kali oleh Largus Lambu (56) yang sedang mencari kayu bakar di sekitar lokasi. Setelah menemukan jenazah tersebut, Largus meminta bantuan warga untuk melaporkan kejadian itu kepada Lurah Karot. Laporan tersebut kemudian diteruskan kepada Kepolisian Resor Manggarai.
Menindaklanjuti laporan itu, personel piket Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), piket fungsi, dan Unit Identifikasi Polres Manggarai mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Tim dipimpin Pamapta III IPDA Dwi Santoso bersama Kanit I Satreskrim IPDA Robertus Jekson.
Petugas memasang garis polisi untuk mengamankan lokasi, memeriksa keadaan sekitar, serta mengumpulkan keterangan yang berkaitan dengan penemuan jenazah tersebut.
Hilang Sejak 23 Oktober
Sebelum ditemukan meninggal, Lusia dilaporkan meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan keluarga pada Jumat, 23 Oktober 2026, sekitar pukul 10.00 WITA. Informasi itu disampaikan Damianus Kadas, saudara kandung korban.
Menurut Damianus, keluarga sempat mencari Lusia di kebun milik orang tua mereka dan di sekitar Kampung Lengor, Desa Pinggang. Namun, pencarian tersebut belum membuahkan hasil.
Keluarga kemudian melanjutkan pencarian pada Sabtu, 24 Oktober 2026, dengan mendatangi rumah sanak saudara di wilayah Ting, Kecamatan Wae Rii. Pencarian berlanjut hingga Senin, 26 Oktober 2026.
Pada Selasa, 27 Oktober 2026, Damianus memperoleh informasi mengenai penemuan jenazah perempuan di Kelurahan Karot. Ia mendatangi lokasi dan memastikan bahwa jenazah tersebut merupakan adik kandungnya yang sebelumnya dilaporkan tidak diketahui keberadaannya.
Dari pemeriksaan awal di lokasi, petugas menemukan sejumlah pakaian milik korban di sekitar aliran kali. Saat ditemukan, kondisi jenazah masih utuh dan belum menunjukkan tanda-tanda pembusukan. Petugas juga tidak melihat tanda-tanda kekerasan pada pemeriksaan fisik awal.
Dokter Perkirakan Korban Meninggal Sekitar 12 Jam Sebelumnya
Setelah olah TKP selesai, jenazah Lusia dievakuasi ke kamar jenazah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng untuk menjalani pemeriksaan medis.
Dokter RSUD Ruteng, dr. Sofia Septria Nurdin, menyatakan bahwa jenazah telah mengalami kekakuan. Berdasarkan pemeriksaan tersebut, korban diperkirakan meninggal sekitar 12 jam sebelum pemeriksaan dilakukan. Dokter juga tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada pemeriksaan fisik dan belum melihat gejala pembusukan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan informasi awal yang diperoleh, muncul dugaan bahwa korban mengalami kekurangan oksigen setelah terjatuh ke aliran kali. Kondisi tersebut diduga mungkin berkaitan dengan riwayat penyakit epilepsi yang dideritanya.
Namun, dugaan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai penyebab kematian yang pasti karena tidak didasarkan pada pemeriksaan autopsi.
Pihak keluarga menyatakan telah menerima kematian Lusia dengan ikhlas dan menganggapnya sebagai takdir. Keluarga juga menolak pelaksanaan autopsi serta menyatakan tidak menghendaki proses hukum lebih lanjut terkait peristiwa tersebut.
Pernyataan penolakan autopsi dan sikap keluarga itu dituangkan dalam surat pernyataan yang ditandatangani Damianus Kadas selaku saudara kandung korban, dengan disaksikan pihak keluarga.
Berdasarkan keterangan keluarga, Lusia memiliki riwayat penyakit epilepsi sejak kecil yang disebut kerap kambuh. Keluarga juga menjelaskan bahwa korban terkadang meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan mereka.
Setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai, jenazah Lusia diantar ke rumah keluarga di Kampung Lengor, Desa Pinggang, Kecamatan Cibal, untuk disemayamkan sambil menunggu kesepakatan keluarga mengenai proses pemakaman.
Polisi Imbau Keluarga Tingkatkan Pengawasan
Menyusul peristiwa tersebut, Polres Manggarai mengimbau masyarakat agar meningkatkan kepedulian terhadap anggota keluarga, terutama mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu dan membutuhkan pendampingan serta pengawasan.
Keluarga diharapkan memastikan anggota keluarga yang rentan memperoleh perhatian dan pendampingan memadai, khususnya ketika beraktivitas di sekitar sungai, kali, atau lokasi lain yang berpotensi membahayakan keselamatan.
Polres Manggarai juga mengajak masyarakat segera melaporkan kepada kepolisian atau aparat setempat apabila menemukan kejadian mencurigakan, orang hilang, maupun peristiwa lain yang membutuhkan penanganan segera.
Kepolisian menyatakan kehadiran Polri di tengah masyarakat merupakan bagian dari komitmen memberikan pelayanan yang profesional, responsif, dan humanis, sekaligus menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.
Polres Manggarai turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan dan berharap keluarga diberikan kekuatan serta ketabahan dalam menghadapi peristiwa tersebut. **(SN/TNM)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi
Cari Berita
Trending NTT
Korban Dugaan Pengeroyokan jadi Tersangka, Aliansi Cipayung TTS Desak Polres Buka Kembali Perkara
Warga Cibal Ditemukan Meninggal di Sungai Kakor, Penyebab Kematian Belum Diketahui
Operasi Patuh Turangga 2026 Dimulai, Polresta Kupang Kota Sasar 11 Pelanggaran
Polda NTT Sita 350 Liter BBM Bersubsidi, Diduga akan Dijual Rp13 Ribu per Liter
Polresta Kupang Kota Periksa 24 LC dalam Razia Narkoba, Ini Hasil Tes Urine
Diduga Curi Rp145 Juta, Pria di Kupang Gunakan Uang untuk Judi Togel dan Cicilan Motor
Kasus Dugaan Perdagangan Orang NTT, 2 Tersangka Ditahan
Kapolda NTT Beri Penghargaan kepada Kasat Lantas Berprestasi dalam Rakernis 2026
Pemkab SBD Tegur Hotel Mario soal Pengecoran di Pesisir Pantai Mananga Aba
DPD KAI NTT Tolak Seluruh Aduan Etik Izhak Rihi terhadap Bildad Thonak