Generasi Muda NTT jadi Kunci Ketahanan Pangan di Tengah Tantangan Perubahan Iklim
Kupang- Generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga dan memperkuat kedaulatan pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan, inovasi, teknologi, serta pengembangan potensi pertanian daerah.
Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional 2026 bertema “Menggali Potensi Pemuda dalam Menjaga Kedaulatan Pangan”yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana), Senin, 15 Juni 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Fakultas Pertanian Undana itu diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri dari mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana dan Politeknik Pertanian Kupang. Seminar menghadirkan narasumber dari unsur akademisi, praktisi pangan, tokoh adat, dan aktivis pangan.
Praktisi pangan, Dr. Laurensius Lehar, S.P., M.P, menegaskan bahwa pemuda harus menjadi garda terdepan dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional.
“Kalau bukan pemuda siapa lagi, kalau bukan kita siapa lagi. Pemuda harus berani mengambil peran untuk menjaga kedaulatan pangan bangsa,” kata Laurensius.
Ia menuturkan, sektor pertanian NTT masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari rendahnya produktivitas lahan, keterbatasan sumber daya air, hingga dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan petani.
Ia menjelaskan bahwa karakteristik wilayah NTT yang beragam membutuhkan pendekatan pembangunan pertanian yang berbeda-beda sesuai kondisi masing-masing daerah.
Wilayah Timor, misalnya, didominasi curah hujan rendah dan musim kemarau yang panjang sehingga pengelolaan air dan konservasi tanah menjadi faktor utama dalam meningkatkan produktivitas.
Sementara wilayah Flores memiliki potensi pertanian yang lebih besar karena didukung curah hujan yang lebih tinggi dan kondisi tanah vulkanik yang subur.
Laurensius juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi pertanian. Ia berkata, generasi muda harus mampu menghadirkan inovasi yang dapat menjawab tantangan pertanian modern sekaligus meningkatkan daya saing sektor pangan daerah.
Selain itu, perubahan iklim dinilai menjadi tantangan serius yang harus diantisipasi. Dampaknya tidak hanya berupa perubahan pola cuaca dan musim tanam, tetapi juga meningkatkan risiko gagal panen akibat kekeringan, serangan hama, dan penyakit tanaman.
Di sisi lain, Pemangku Adat, Marthen Benyamin, S.Sos menekankan pentingnya menjaga kearifan lokal yang selama ini menjadi bagian dari sistem pertanian masyarakat.
Ia mengisahkan bagaimana masyarakat terdahulu mampu mengelola pertanian dengan memanfaatkan bibit lokal, tenaga ternak, dan pengetahuan adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Ia berkata, berbagai tradisi pertanian yang berkembang di masyarakat memiliki nilai penting yang dapat dikombinasikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini.
“Pola-pola lama yang dikembangkan oleh orang tua kita perlu dipelajari kembali dan dipadukan dengan ilmu pengetahuan agar hasil pertanian dapat terus meningkat,” katanya.
Sementara itu, akademisi Fakultas Pertanian Undana, Prof. Dr. Ir. Doppy Roy Nendissa, M.P., CRA., CRP., C.SEPRO, mengajak mahasiswa untuk tidak hanya memperoleh ilmu di bangku kuliah, tetapi juga mampu menerapkannya secara nyata dalam mendampingi petani.
Ia mengatakan,kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, penyuluh pertanian, dan masyarakat menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas sektor pertanian.
Menurut Prof Roy, keterbatasan jumlah penyuluh di lapangan masih menjadi tantangan yang perlu diatasi melalui penguatan kapasitas petani dan keterlibatan generasi muda.
Prof. Doppy juga mendorong mahasiswa untuk menjadi agen perubahan yang mampu menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan petani di lapangan.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Yayasan Kaya Tene, Zainudin Umar, mengajak generasi muda untuk mengubah cara pandang terhadap sektor pertanian dan menjadikannya sebagai bidang yang menjanjikan bagi masa depan.
Dalam pemaparannya, Zainudin menilai masih banyak anak muda yang menganggap bertani sebagai pekerjaan kelas dua.
Padahal, menurutnya, sektor pertanian memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah.
Ia mengatakan, pengalaman Yayasan Kaya Tene selama mendampingi masyarakat menunjukkan bahwa sektor pertanian mampu memberikan penghasilan yang layak apabila dikelola dengan baik.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa dan generasi muda untuk tidak hanya mengejar pekerjaan di sektor formal, tetapi juga berani menjadi pelaku usaha pertanian.
Mantan Ketua HMI Cabang Kupang itu mengatakan, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi petani di Nusa Tenggara Timur saat ini adalah masih terbatasnya akses terhadap air, bibit unggul, dan pupuk.
Ketiga faktor tersebut menjadi kendala utama yang sering ditemui dalam program pendampingan masyarakat yang dilakukan Yayasan Kaya Tene.
“Ketersediaan air, bibit, dan pupuk masih menjadi persoalan mendasar yang dihadapi petani di kampung-kampung,” katanya Umar.
Melalui program pendampingan di sejumlah desa binaan, Yayasan Kaya Tene berupaya menghadirkan solusi dengan membangun kebun percontohan yang dikelola bersama masyarakat, salah satunya berada di Desa Wowong, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata.
Kebun tersebut tidak hanya berfungsi sebagai lahan produksi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi petani untuk mengembangkan teknik budidaya yang lebih baik.
Zainudin menjelaskan bahwa konsep yang diterapkan adalah memberdayakan masyarakat dengan memanfaatkan lahan milik warga.
Yayasan menyediakan pendampingan, fasilitas pendukung, serta akses pengetahuan yang dapat meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola usaha pertanian.
Selain itu, pihaknya juga menggandeng praktisi pertanian yang memiliki pengalaman di bidang pengembangan pertanian modern untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai teknik budidaya, pembibitan, dan pengelolaan lahan.
Di hadapan ratusan mahasiswa peserta seminar, Zainudin juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, praktisi, dan masyarakat.
Hadir dalam kesempatan itu, Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Nusa Cendana (Undana) periode 2026–2030 adalah Dr. Tomycho Olviana, S.P., M.M.A, Ketua BEM Faperta Undana, Rambu Anjeli Bolu, dan Ketua BLM Faperta Undana, Silfanus Manau.
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi