Doktor Seni Pertama NTT Ungkap Transformasi Makna Tenun Atoin Meto dalam Orasi Ilmiah Wisuda Undana

Redaksi HighlightNTT
Dilihat 359x
Waktu Baca ± 9 Min
Bagikan Artikel
Doktor Seni Pertama NTT Ungkap Transformasi Makna Tenun Atoin Meto dalam Orasi Ilmiah Wisuda Undana
Dr. Sn. Yohanes K. Nula Liliweri, M.Sn saat berorasi ilmiah dalam acara Wisuda Doktor, Magister, Profesi, dan Sarjana Periode III Tahun 2026 yang berlangsung di Auditorium Graha Universitas Nusa Cendana (Undana), Selasa, 1 September 2026. Kredit: Tangkapan layar channel YouTube Undana

Kota Kupang- Dr. Sn. Yohanes K. Nula Liliweri, M.Sn., mengangkat perjalanan panjang, perubahan makna, serta dimensi spiritual tenun masyarakat Atoin Meto dalam orasi ilmiah pada acara Wisuda Doktor, Magister, Profesi, dan Sarjana Periode III Tahun 2026 yang berlangsung di Auditorium Graha Universitas Nusa Cendana (Undana), Selasa, 1 September 2026.

Dalam orasi ilmiah bertajuk “Tekstur Visual dan Dialektika Kosmologis: Imaji Keilahian Dalam Tenun Atoin Meto Lintas Zaman”, Yohanes Nula Liliweri menjelaskan bagaimana imaji keilahian dalam tradisi tenun masyarakat Atoin Meto tumbuh, berkembang, serta bertransformasi bentuk dan maknanya melintasi tiga babak sejarah.

Ketiga periode tersebut, kata Yoppi Liliweri sapaan akrab Yohanes, yakni Masa Pra-Kristen (abad ke-7–15 M), Masa Evangelisasi (abad ke-16–1945), dan Masa Indonesia Modern (1945 hingga kini).

Menurut dia, tenun Atoin Meto tidak dapat dipandang semata-mata sebagai sandang atau produk kerajinan. Tenun merupakan media komunikasi spiritual sekaligus arsip visual hidup yang merekam perjuangan bertahan hidup, kedalaman spiritualitas, dan kecerdasan budaya masyarakat yang diwariskan lintas zaman.

“Masyarakat Atoin Meto mendiami bentang alam pedalaman Timor Barat yang keras, membentang dari Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, hingga Oecusse,” demikian bagian awal pemaparan orasi ilmiah Yoppi Liliweri.

Di tengah keterbatasan lingkungan tersebut, ujar dia, masyarakat Atoin Meto membangun tatanan kehidupan berbasis keselarasan kosmologis yang diatur melalui hukum adat atau lasi meto.

Ketaatan terhadap harmoni kosmis itu, jelasnya, ditopang empat pilar spiritual dalam hierarki keilahian, yakni Uis Neno sebagai pencipta langit yang transenden, Uis Pah sebagai penguasa bumi yang imanen, Uis Oe sebagai pemilik air, serta Pah Nitu atau arwah leluhur.

"Keyakinan tersebut juga diperkuat kepercayaan terhadap roh pelindung atau nenob serta kekuatan sakral yang disebut le'u," jelas alumni Institut Teknologi Bandung – Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) itu.

Harmoni kosmologis itu kemudian diwujudkan secara fisik melalui tenun sebagai bentuk penghormatan terhadap pilar-pilar kehidupan masyarakat Atoin Meto.

“Lebih dari sekadar sandang, tenun berfungsi sebagai media komunikasi spiritual sekaligus arsip visual hidup yang berada di bawah kehendak ilahi dan tatanan klan,” ungkap Nula Liliweri.

Dari Benda Sakral Menjadi Penanda Identitas

Liliweri menjelaskan, fungsi dan makna tenun mengalami perubahan seiring perjalanan sejarah. Pada masa lalu, tenun diposisikan sebagai benda keramat pelindung klan untuk menolak bala.

Pembuatannya dikendalikan oleh tabu adat yang ketat dan dilakukan secara rahasia dalam ritual tertutup oleh perempuan bangsawan. Penggunaannya pun terbatas secara eksklusif bagi Usif, Amaf, dan Meo untuk meneguhkan legitimasi kekuasaan mereka.

Namun, pada masa kini, arus modernitas membawa benda suci tersebut ke dalam proses desakralisasi dan komodifikasi pasar.

Kain dan motif sakral yang sebelumnya dibatasi tabu kini direproduksi secara luas menggunakan benang poliester dan pewarna sintetis. Tenun kemudian berkembang menjadi produk fesyen, dekorasi, hingga seragam birokrasi.

Dalam proses tersebut, tenun bertransformasi dari penjaga ritual yang statis atau being, menjadi penanda identitas etnis atau ethnic identity marker yang adaptif atau becoming.

Yohanes menilai perubahan tersebut tidak dapat dilihat hanya dalam dikotomi antara kepunahan nilai sakral dan pelestarian tradisi.

Pergeseran tersebut, jelas dia, justru menunjukkan kemampuan budaya untuk beradaptasi dalam mempertahankan identitas spiritualnya.

Empat Pilar Teoretis

Untuk menjelaskan perubahan tersebut, penelitian kualitatif historis-interpretatif yang dikembangkan Yohanes menyintesiskan empat pilar teoretis.

Pertama, Periodisasi Sejarah Sartono Kartodirdjo, yang menempatkan tenun sebagai kesatuan holistik yang mengintegrasikan artefak fisik atau artifact, struktur sosial atau socifact, serta sistem keyakinan atau mentifact.

Kedua, Semiotika Signifikasi Roland Barthes, yang digunakan untuk membongkar penandaan rupa mulai dari denotasi visual, konotasi teologis, hingga mitos kultural yang menopang otoritas adat.

Ketiga, Identitas Budaya Stuart Hall, yang membaca identitas sebagai proses negosiasi dinamis atau becoming, bukan status yang membeku atau being.

Keempat, Sejarah Seni dan Zeitgeist E.H. Gombrich, yang menjelaskan transformasi bentuk rupa sebagai dialektika antara konsep naturalisme, konvensi tradisi atau schema, dan tuntutan jiwa zaman atau zeitgeist.

Secara metodologis, penelitian tersebut memadukan pendekatan diakronik, sinkronik, dan etnografi visual. Pendekatan diakronik digunakan untuk melacak kronologi evolusi motif, pendekatan sinkronik untuk membedah konteks sosio-teologis pada periode tertentu, sedangkan etnografi visual dilakukan melalui observasi partisipatif, dokumentasi, dan wawancara berbasis gambar atau visual elicitation.

Empat Corak Utama Tenun Atoin Meto

Nula Lililweri menyebut manifestasi dunia spiritual yang dituangkan para penenun ke atas kain didominasi empat skema corak utama yang tersebar di wilayah Atoin Meto.

Keempatnya adalah corak geometris kaif, corak vegetal, corak zoomorfik seperti buaya, katak, dan burung atau ayam, serta corak antropomorfik yang menggambarkan figur manusia atau atoni.

Pada Masa Pra-Kristen abad ke-7 hingga ke-15 Masehi, tenun bukan pakaian harian, melainkan entitas eksklusif yang memiliki daya sakral dan menegaskan otoritas para raja sebagai wakil ilahi.

Motif figuratif pada masa tersebut antara lain menampilkan buaya atau Besimnasi, katak atau Be'o, manusia-katak atau Atoni Be'o, figur manusia atau Atoni, serta pohon hayat atau Hau Tiak.

Secara konotatif, jalinan motif tersebut menjelmakan kehadiran dewa dan roh leluhur. Buaya dan figur manusia menjadi penjaga air, penanda status sosial, legitimasi kuasa, dan pelindung mitos asal-usul. Katak menjadi simbol pemanggil hujan, kesuburan, dan regenerasi alam.

Sementara benda kosmik seperti Manas, Funan, dan Fkun melambangkan ketertiban kosmis serta manifestasi Uis Neno, Uis Pah, dan Pah Nitu.

Burung dan ayam menjadi medium penghubung dunia atas, penanda waktu, serta sarana persembahan. Adapun Pohon Hayat atau Hau Tiak menjadi pusat kosmologi yang menyatukan dunia atas, tengah, dan bawah.

Tenun digunakan dalam berbagai ritual sakral, seperti upacara pelantikan raja atau Usif, persembahan panen, pemakaman agung para pemangku adat, hingga ritus pelepasan pasukan perang atau Meo.

Evangelisasi dan Strategi “Visual Camouflage”

Memasuki Masa Evangelisasi abad ke-16 hingga 1945, perjumpaan kebudayaan Timor dengan kekuasaan kolonial dan misionaris Kristen memicu dialektika teologis yang melahirkan dua pola respons visual.

Pola pertama adalah Inkulturasi Ikonografis oleh Misi Katolik. Melalui pendekatan akomodatif, simbol lokal berasimilasi dengan ikonografi Kristiani.

Figur manusia atau atoni diintegrasikan sebagai representasi orang-orang kudus, sedangkan Pohon Hayat atau Hau Tiak disepadankan dengan Salib Suci. Simbol baru seperti burung merpati sebagai lambang Roh Kudus dan cawan Ekaristi juga melebur ke dalam motif tenun di wilayah basis Katolik seperti Insana, Miomaffo, dan Biboki.

Pola kedua menghadirkan ketegangan yang lebih tajam. Zending Protestan menerapkan dogma ikonoklasme dan estetika puritan yang ketat serta melarang penggunaan kain nono atau lulik karena dianggap sebagai praktik berhala.

Menghadapi larangan tersebut, para penenun perempuan Timor melahirkan strategi perlawanan estetis yang disebut Yohanes sebagai Visual Camouflage atau Penyamaran Visual.

Motif sakral seperti buaya dan figur leluhur difragmentasi kemudian disamarkan ke dalam pola geometris abstrak belah ketupat berkait atau kaif/Fut Kai Ana.

Dengan cara tersebut, penanda visual dapat tersembunyi dari pengawas kolonial, tetapi esensi spiritualnya tetap hidup secara rahasia.

Era Modern dan Komodifikasi Tenun

Memasuki Masa Indonesia Modern sejak 1945 hingga kini, integrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia serta penetrasi industri kreatif dan pariwisata mengubah wajah tenun Timor secara radikal.

Di satu sisi, desakralisasi dan komodifikasi tidak terhindarkan. Tenun diproduksi secara massal menggunakan benang sintetis dan pewarna pabrikan untuk kebutuhan industri mode, cenderamata, hingga seragam birokrasi.

Namun di sisi lain, motif keilahian tidak lagi terkurung dalam tabu dan berkembang menjadi penanda identitas etnis yang dinamis.

Benda kosmik berkembang merepresentasikan spiritualitas ekologis dan kehadiran ilahi yang universal. Figur manusia atau atoni merefleksikan perpaduan nilai keagamaan atau Imago Dei, heroisme perjuangan, serta identitas sosial modern.

Fauna juga mengalami pergeseran makna. Buaya menjadi ikon budaya daerah, katak menyimbolkan daya tahan lokal, burung melambangkan kebebasan, sedangkan ayam meneguhkan hierarki sosial.

Sementara itu, Pohon Hayat atau Hau Tiak berkembang menjadi simbol ketahanan iman yang menyatukan masa lalu dan masa depan.

Lahirnya Teori “The Visual Texture of Divinity”

Salah satu bagian penting dari orasi ilmiah tersebut adalah tawaran teori baru yang disebut Teori Tekstur Visual atau The Visual Texture of Divinity.

Yohanes Liliweri menjelaskan, selama berabad-abad kajian kriya Nusantara banyak terbelenggu sudut pandang Eurosentris. Estetika formalis Barat cenderung mereduksi tekstur sebatas sensasi rabaan di permukaan kain, elemen dekoratif, atau materi profan.

Melalui Teori Tekstur Visual, ia menawarkan perspektif yang menempatkan tekstur wastra bukan sebagai kulit luar yang pasif, melainkan sebagai anyaman keruangan metafisik yang bersifat dual-woven atau ditenun secara ganda.

Kain, kata dia, tidak hanya ditenun secara fisik melalui benang dan kriya, tetapi secara simultan ditenun secara spiritual yang memuat empat lapis kesatuan eksistensial.

Keempat lapisan tersebut adalah lapis materialitas, lapis fenomenologi rupa, lapis transendensi rohani, dan lapis puncak kosmologis.

Teori tersebut juga digunakan untuk membaca tiga teknik utama tenun Atoin Meto, yakni Futus (Ikat), Buna (Sulam Timbul), dan Sotis (Sisip).

Teknik Futus menghasilkan garis motif samar yang melebur dan menyimbolkan keilahian transenden yang gaib dan misterius atau lulik.

Teknik Buna menghasilkan relief tiga dimensi yang tegas dan menyimbolkan penyingkapan keilahian secara imanen melalui struktur sosial, kekuasaan raja, dan identitas di ruang publik.

Sedangkan teknik Sotis menghasilkan irama geometris datar yang teratur dan menyimbolkan harmonisasi sosial serta keteraturan tatanan kosmik.

Empat Kebaruan Ilmiah

Dalam orasinya, Yohanes Liliweri menyebut penelitian tersebut menghadirkan empat kontribusi keilmuan mendasar.

Pertama, kebaruan historis-teologis, yakni temuan bahwa penetrasi zending melahirkan strategi resistensi visual berupa pengaburan motif sakral ke dalam bentuk geometris belah ketupat berkait atau kaif.

Kedua, kebaruan metodologis, melalui integrasi pendekatan sinkronik, diakronik, dan etnografi visual dalam kerangka pengkajian seni religi.

Ketiga, kebaruan konseptual, yakni perumusan evolusi makna tenun dari fungsi magis-sakral menuju ikon liturgis, kemudian bertransformasi menjadi penanda identitas etnis.

Keempat, kebaruan teoretis melalui Teori Tekstur Visual atau The Visual Texture of Divinity.

Doktor Seni Pertama dari NTT

Yohanes Liliweri menyelesaikan studi S3 di Institut Seni Indonesia Yogyakarta sekaligus menandai tonggak sejarah akademis baru karena melahirkan Doktor Seni pertama dari Nusa Tenggara Timur, sekaligus doktor seni pertama untuk wilayah Maluku dan Papua.

“Capaian sejarah ini membuktikan bahwa kekayaan kebudayaan visual Indonesia Timur tidak lagi sekadar menjadi objek riset oleh peneliti luar. Kita, putra-putri daerah, telah membuktikan diri mampu mengkaji, membedah, dan merumuskan teori ilmiah orisinal di panggung akademik internasional,” demikian pesan yang disampaikan dalam orasi tersebut.

Untuk menjaga kelestarian warisan budaya tersebut, penelitian ini merumuskan empat rekomendasi strategis.

Pertama, membangun basis data ilmiah dan mendorong pengusulan tenun Atoin Meto sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO.

Kedua, memperkuat proteksi hukum dan Indikasi Geografis (IG) melalui regulasi etika industri kreatif serta sertifikasi Indikasi Geografis guna melindungi keaslian motif sakral dan kesejahteraan penenun lokal.

Ketiga, mengintegrasikan filosofi dan sejarah evolusi wastra ke dalam Kurikulum Muatan Lokal di sekolah-sekolah se-NTT untuk merawat memori kolektif generasi muda.

Keempat, memperkuat sinergi tokoh adat dan keagamaan, khususnya lembaga keagamaan dengan pemangku adat seperti Usif dan Amaf, sehingga penggunaan wastra dalam liturgi tetap menghormati sakralitas aslinya.

“Tenun Itu Adalah Helai-Helai Doa"

Menutup orasi ilmiahnya, Yoppi Liliweri mengajak hadirin melihat tenun Timor bukan hanya sebagai kain penutup tubuh, tetapi sebagai bagian dari ingatan, spiritualitas, dan peradaban masyarakat Timor Barat.

“Tenun itu adalah helai-helai doa. Doa yang diikat erat dengan ingatan leluhur, diwarnai dengan akar-akar bumi, dan ditenun dengan keteguhan iman yang tak tergoyahkan,” demikian pesan penutupnya.

Ia menegaskan, selama perempuan-perempuan Atoin Meto masih mengikat benang futus dan menyilangkan benang buna, selama itu pula peradaban visual Nusantara tidak akan kehilangan jiwanya.

Orasi ilmiah tersebut kemudian ditutup dengan ucapan selamat Dies Natalis ke-64 bagi Universitas Nusa Cendana serta harapan agar Undana semakin jaya, berdampak, dan menjadi world class university.

“Hollow Meto, Saeb Uis Neno Nokan Kit Arat... Tuhan Memberkati Kita Sekalian.” ** (R002)

Reaksi Pembaca:

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan