Di Hadapan Teksnya Sendiri: Menjawab Sembilan “Pelajaran” Gregorius Duli Langobelen dengan Menguji Argumen pada Teks yang Ia Tulis Sendiri

Redaksi HighlightNTT
Dilihat 110x
Waktu Baca ± 16 Min
Bagikan Artikel
Di Hadapan Teksnya Sendiri: Menjawab Sembilan “Pelajaran” Gregorius Duli Langobelen dengan Menguji Argumen pada Teks yang Ia Tulis Sendiri
Igo Halimaking Kredit: Dok. Pribadi

Oleh: Igo Halimaking

(Orang Ile Ape Lembata tinggal di Kota Kupang)

OPINI- Saya membaca tulisan ketiga Gregorius Duli Langobelen -GDL, “Di Hadapan Kekuatan Ekonomi-Politik: Mengajak Pemda Berpikir dalam Sembilan Pelajaran Menulis untuk Igo”, dengan cukup teliti.

Saya sengaja membaca kembali dua tulisannya secara utuh karena GDL membuka tulisannya dengan tuduhan yang cukup serius: bahwa tanggapan saya sebelumnya tidak menyentuh substansi yang ia kemukakan dan bahwa saya kerap menampilkan pernyataannya bukan melalui kutipan langsung, melainkan dengan mem-parafrase-kan-nya secara keliru sehingga inti gagasannya bergeser ke wilayah “periferi”.

Ini bukan persoalan kecil. Sebab, kalau benar saya mengubah atau menggeser apa yang ia tulis, maka kritik saya memang kehilangan pijakan. Tetapi persoalannya, ini agaknya sudah menjadi "penyakit akut" GDL. Kami pernah berdebat dalam topik yang lain dan persoalan serupa sesungguhnya sudah saya jelaskan pada tiap-tiap poin.

Namun, alih-alih menjawab substansi yang saya kemukakan, ia justru berkilah, menggeser persoalan, atau seolah-olah lupa pada apa yang sebelumnya telah ia tulis sendiri. Setelah itu, lawan debat dituduh telah melakukan paraphrase, mengubah konteks, atau tidak memahami apa yang sedang dibicarakan.

Kebiasaan itu kembali terlihat dalam tanggapannya kali ini. Karena itu, kali ini saya tidak ingin berdebat berdasarkan ingatan, kesan, atau tafsiran semata. Saya akan kembali kepada teks aslinya—poin demi poin.

Kalau perlu, saya akan mengutip kembali kalimat-kalimat GDL dari tulisan pertama dan keduanya. Bukan untuk memelintir atau mencari-cari kesalahan, melainkan supaya pembaca dapat melihat sendiri: apakah saya benar-benar salah memahami posisinya, atau justru saya sedang mempertanyakan kalimat yang memang ia tulis sendiri.

Pelajaran Pertama

Kalau GDL sekarang berbicara tentang “risiko”, mari kita lihat apa yang ia tulis sebelumnya. GDL mengatakan saya salah memahami posisinya. Ia menegaskan dalam tulisan ketiga: “Saya tidak pernah mengatakan bahwa setiap Alfamart atau Indomaret di setiap tempat pasti menghasilkan akibat yang sama.”

Menurut GDL, argumentasinya sejak awal bukan bahwa setiap gerai pasti menghancurkan ekonomi lokal, melainkan bahwa struktur bisnis ritel besar menciptakan risiko dan ketimpangan yang harus diperiksa.

Saya tidak keberatan dengan penjelasan itu. Tetapi masalahnya: tulisan pertama GDL tidak berhenti pada bahasa risiko. Mari kita lihat teksnya. Dalam tulisan pertama, ia menulis: “Tulisan ini ingin membuka mata kita untuk melihat alasan kenapa kita mesti menolak kehadiran raksasa bisnis tersebut.”

Bahkan pada bagian solusi, kalimatnya jauh lebih tegas: “Tolak kehadiran Alfamart, Indomaret, maupun semua Waralaba Raksasa sejenis.” Dan dilanjutkan: “karena itu sikap kita adalah: Tolak!” Jadi ketika saya mempertanyakan dasar dari kesimpulan penolakan, saya tidak sedang mengarang posisi GDL.

Saya sedang membaca kalimat yang ia tulis sendiri. Lebih jauh lagi, tulisan pertama tidak hanya mengatakan “ada risiko”. GDL menulis: “kehadiran Alfamart dan Indomaret hampir pasti akan melahirkan ketimpangan daya tawar yang tajam.”

Ia juga menulis: “membiarkan Alfamart dan Indomaret masuk ke Lembata dalam kondisi UMKM yang belum menguasai distribusi sama saja dengan membuka gerbang dari dalam dan mengulangi kesalahan Troya dalam bentuk ekonomi.”

Jadi, kalau sekarang GDL mengatakan bahwa teorinya hanyalah kerangka untuk memeriksa risiko, saya bisa menerima itu sebagai penjelasan yang lebih hati-hati. Tetapi, jangan kemudian mengatakan bahwa saya mengubah argumen GDL.

Saya justru mengutip argumen GDL sebagaimana ia menuliskannya. Perbedaannya sederhana. Saya tidak mengatakan bahwa risiko itu tidak ada. Saya mengatakan: risiko harus dibuktikan, diukur dan diuji sebelum dijadikan dasar untuk mengambil kesimpulan penolakan.

Itu bukan penolakan terhadap teori. Itu justru konsekuensi dari standar kajian yang GDL sendiri katakan dalam tulisan ketiganya: membedakan fakta, teori, indikasi, hipotesis, kemungkinan, inferensi dan kesimpulan.

Pelajaran Kedua

“Belum terbukti” memang bukan berarti “tidak ada”. Tetapi juga bukan berarti “sudah terbukti ada”. GDL mengatakan saya keliru karena ketika predatory pricing belum terbukti di Lembata, saya dianggap menutup kemungkinan adanya strategi harga agresif.

Saya tidak pernah mengatakan demikian. Malah dalam tulisan pertamanya, GDL sendiri menulis dengan sangat spesifik: “Salah satu taktik paling agresif yang menyertai ekspansi waralaba raksasa adalah penerapan predatory pricing atau harga pemangsa.”

Kemudian, ia menjelaskan bahwa harga dibuat relatif lebih murah dan diberi banyak promosi untuk menciptakan anomali harga yang sulit diikuti pedagang kecil.  Ia bahkan menulis: “bahkan para raksasa ritel mampu menekan harga hingga 15–20% lebih rendah dari harga grosir yang didapat pedagang lokal melalui sistem pengadaan terpusat.”

Saya mempertanyakan klaim itu bukan karena saya mengatakan harga murah tidak mungkin menjadi persoalan. Saya mempertanyakannya karena predatory pricing adalah tuduhan yang memiliki unsur-unsur yang harus dibuktikan.

Dan, di sini GDL sendiri sekarang mengakui hal tersebut. Dalam tulisan ketiga ia mengatakan bahwa saya benar ketika menjelaskan bahwa predatory pricing memerlukan pembuktian mengenai harga, biaya, kemampuan menyingkirkan pesaing dan kemungkinan memperoleh kembali kerugian setelah pesaing melemah.

Jadi, sebenarnya di bagian ini tidak ada perbedaan mendasar. Yang berbeda adalah langkah berikutnya. GDL mengatakan: karena predatory pricing belum terbukti, bukan berarti kekhawatiran terhadap strategi harga agresif menjadi tidak relevan. Saya setuju. Tetapi, logika sebaliknya juga harus berlaku: karena ada kekhawatiran terhadap strategi harga agresif, bukan berarti praktik tersebut sudah terbukti terjadi di Lembata.

Ini dua hal yang berbeda. Belum terbukti ≠ tidak ada. Tetapi: belum terbukti ≠ sudah terbukti. GDL menggunakan analogi rumah yang berpotensi terbakar. Saya kira analoginya tepat sejauh ia digunakan untuk mendorong pemeriksaan. Kalau rumah diduga memiliki risiko kebakaran, kita periksa instalasi listriknya. Tetapi, kita tidak mengatakan rumah itu sudah terbakar hanya karena ada potensi kebakaran.

Begitu pula dengan Lembata. Kalau ada risiko harga agresif, kita periksa harga, biaya, struktur pengadaan, promosi, kemampuan pedagang lokal bersaing dan perubahan harga setelah kompetitor melemah. Itulah kajian. Bukan menolak kajian, lalu langsung mengambil kesimpulan.

Pelajaran Ketiga

Penelitian yang beragam tidak membatalkan kekhawatiran. Tetapi juga tidak boleh dipakai untuk membenarkan kesimpulan sebelum penelitian Lembata dilakukan. Pada bagian ini, GDL sebenarnya mengakui sesuatu yang sangat penting: penelitian tentang dampak ritel modern tidak menghasilkan satu kesimpulan yang seragam.

Ia menyebut penelitian Sarwoko, Hikmawati dan Nuryakin serta penelitian Kementerian Perdagangan yang saya gunakan. Lalu ia mengatakan: “dampak ritel modern tidak tunggal dan sangat tergantung pada konteks.”

Saya justru setuju dengan kalimat itu. Tetapi, kalau dampaknya tergantung konteks, maka pertanyaan berikutnya tidak bisa dihindari: Bagaimana kita mengetahui konteks Lembata kalau Lembata sendiri belum dikaji secara memadai?

GDL kemudian mengatakan saya akhirnya juga mengusulkan kajian dampak sebelum izin diberikan. Benar. Saya memang mengusulkan itu. Tetapi di sini terjadi lompatan dalam membaca posisi saya. Saya mengatakan: karena dampaknya tergantung konteks, mari kita teliti Lembata. GDL mengatakan: karena dampaknya tergantung konteks dan ada risiko, maka ekspansi harus ditahan/ditolak sebelum kajian.

Itu bukan kesimpulan yang sama. Justru penelitian yang berbeda-beda memperkuat alasan saya untuk tidak menggunakan pengalaman Watampone, Pekanbaru atau daerah lain sebagai pengganti penelitian tentang Lembata.

GDL sendiri menulis: “dampak ritel modern tidak tunggal dan sangat tergantung pada konteks.” Kalau begitu, konteks Lembata harus menjadi objek penelitian, bukan objek dugaan.

Saya tidak sedang mengatakan ritel modern pasti aman. Saya juga tidak mengatakan pasti berbahaya. Saya mengatakan: kita belum boleh berpura-pura sudah mengetahui hasil penelitian yang belum dilakukan.

Pelajaran Keempat

Persaingan memang tidak berlangsung dari garis start yang sama. Tetapi, itu justru alasan untuk mengatur pasar, bukan otomatis melarang pesaing masuk.

Pada bagian ini, GDL mengatakan pasar bukan pertandingan antara dua pemain yang berdiri di garis start yang sama. Saya setuju. Ia menulis bahwa kios keluarga tidak memiliki jaringan distribusi nasional, daya tawar pengadaan, teknologi promosi, modal dan sistem logistik seperti perusahaan nasional.

Saya juga tidak pernah mengatakan sebaliknya. Justru karena terdapat ketimpangan itulah saya mengatakan pemerintah harus: membuat aturan persaingan yang adil; mengawasi kepadatan dan lokasi ritel; melindungi UMKM; membuka ruang produk lokal; mencegah praktik persaingan tidak sehat; memastikan tidak ada konflik kepentingan dalam perizinan.

Jadi, kalau GDL mengatakan bahwa UMKM memiliki posisi yang tidak seimbang, saya tidak membantahnya. Yang saya pertanyakan adalah apa kesimpulan kebijakannya.

Ketimpangan daya tawar tidak otomatis berarti satu-satunya jawaban adalah menutup pasar. Kalau demikian, maka hampir setiap sektor yang mempertemukan perusahaan besar dengan usaha kecil harus ditutup.

Padahal, pilihan kebijakan tidak hanya: buka tanpa aturan atau tolak total. Ada pilihan ketiga: buka dengan aturan yang ketat, ukur dampaknya, dan koreksi jika terbukti merugikan. Dan kalau ternyata setelah penelitian ditemukan bahwa dampaknya memang tidak dapat dikendalikan, maka penolakan memiliki dasar yang jauh lebih kuat.

Yang saya tolak bukan perlindungan. Yang saya tolak adalah menganggap hasil akhir penelitian sudah diketahui sebelum penelitian dilakukan.

Pelajaran Kelima

Saya tidak pernah mengatakan hak konsumen harus mengorbankan pedagang lokal. GDL mengatakan saya seolah-olah mempertentangkan konsumen dengan pedagang lokal. Padahal tulisan saya justru mengatakan sebaliknya.

GDL sendiri mengakui bahwa: “konsumen memang berhak memilih.” Saya tidak pernah membantah hak tersebut. Yang saya persoalkan adalah ketika pilihan konsumen langsung dibaca sebagai bukti bahwa konsumen sedang memilih sesuatu yang merugikan dirinya sendiri.

Ini penting karena tulisan kedua GDL menggunakan konsep “kesadaran palsu.” Dan kalimat aslinya perlu diingat.  “Di sinilah konsep kesadaran palsu menjadi relevan untuk dipertimbangkan. Bahwa bukan tidak mungkin kesadaran warga hari ini dalam mendukung Alfamart-Indomaret adalah kesadaran yang palsu.”

GDL kemudian memberikan penjelasan: “Dengan klaim ini, bukan berarti saya tengah menuduh mereka sebagai masyarakat bodoh, ‘main kurang jauh’, tidak mampu berpikir, atau tidak memahami kepentingannya sendiri...”

Sampai di sini saya tidak memiliki masalah. Saya tidak pernah mengatakan GDL menyebut masyarakat Lembata bodoh. Saya juga tidak pernah mengatakan bahwa menurut GDL warga tidak mampu berpikir.

Justru, saya memahami penjelasan yang ia berikan: bahwa false consciousness menurutnya bekerja lebih halus, melalui lingkungan sosial, bahasa, informasi, simbol, pengalaman dan narasi.

Tetapi, persoalannya ada pada kalimat setelah itu. GDL menulis: “Apa yang kemudian tampak sebagai pilihan bebas dan rasional kadang-kadang merupakan pilihan yang dibentuk oleh cakrawala pengetahuan tertentu. Itulah yang sedang terjadi.”

Nah, “Itulah yang sedang terjadi” adalah bagian yang menurut saya perlu dipersoalkan. Karena sebelumnya GDL mengatakan: “bukan tidak mungkin” Tetapi kemudian mengatakan: “Itulah yang sedang terjadi.”

Ada pergeseran yang sangat penting di antara dua kalimat tersebut. “Bukan tidak mungkin” adalah kemungkinan. “Itulah yang sedang terjadi” sudah jauh lebih dekat kepada klaim tentang kenyataan.

Tetapi, persoalan saya bukan sekadar apakah istilah “kesadaran palsu” berarti masyarakat bodoh atau tidak. Pertanyaan saya lebih mendasar: apa bukti bahwa dukungan warga Lembata terhadap Alfamart-Indomaret memang merupakan kesadaran palsu?

Kalau seseorang mengatakan: “Saya memilih Alfamart karena lebih dekat.” Atau: “Saya memilih karena harganya lebih murah.” Atau: “Saya memilih karena barangnya lebih lengkap.” Apakah kita sudah memiliki penelitian yang cukup untuk mengatakan bahwa pilihan tersebut merupakan hasil kesadaran yang direkayasa? Atau sebenarnya orang tersebut memang sedang membuat pilihan ekonomi berdasarkan informasi yang ia miliki?

GDL sendiri dalam tulisan ketiganya sekarang mengatakan: “Seorang warga dapat saja benar-benar merasakan bahwa Alfamart lebih nyaman dan lebih murah. Itu tidak otomatis membuktikan bahwa ia tidak rasional.”

Saya setuju. Tetapi kalau begitu, kita sudah semakin dekat. Karena yang saya minta sejak awal adalah jangan mengambil kesimpulan tentang kesadaran masyarakat tanpa terlebih dahulu mengetahui bagaimana masyarakat mengambil keputusan.

Kalau informasinya belum lengkap, maka tugas pemerintah memang menyediakan informasi. Tetapi menyediakan informasi berbeda dengan mengatakan bahwa pilihan masyarakat saat ini adalah “kesadaran palsu.”

Kita boleh mengritik struktur. Kita boleh mengritik iklan. Kita boleh mengritik pengaruh kapital. Tetapi, masyarakat juga harus dihormati sebagai subjek yang mampu berpikir.

Pelajaran Keenam

Ketika argumen mulai bergeser dari isi tulisan ke kemampuan orang membaca, saya memilih kembali ke teks. Ada satu hal dalam tulisan ketiga yang menurut saya tidak perlu diperpanjang, tetapi perlu dicatat. GDL mengatakan: “lagi-lagi, Igo sedang membantah sesuatu yang tidak saya katakan.” Kalimat seperti ini yang justru membuat saya perlu kembali kepada teks. Sebab pada bagian pembuka tulisan ketiga, GDL mengatakan saya salah membaca, salah mem-parafrase-kan dan sibuk mencari “celah literer”.

Ia bahkan menulis: “saya mengajari Igo sedikit tentang bagaimana sebuah kajian dibaca dan ditulis.” Di bagian lain muncul kalimat seperti “ketidakpahamannya jauh lebih besar” dan: “Baru sadar?” Bahkan, ada ajakan: “silakan menikmati sebatang rokok dulu.” Saya tidak akan membalas dengan mengatakan bahwa GDL tidak paham. Tidak perlu.

Sebab menurut saya, pembaca tidak membutuhkan dua orang yang saling membuktikan siapa yang lebih pintar. Pembaca membutuhkan argumen. Saya juga tidak keberatan dikoreksi jika memang saya keliru membaca sebuah teori, penelitian atau konsep. Tetapi, koreksi akademik harus menjawab satu pertanyaan sederhana: di mana kesalahan argumennya? Bukan siapa yang lebih tinggi gelarnya, Bukan siapa yang lebih sering menggunakan istilah Marx, List, atau teori struktur pasar. Sebab pada akhirnya: Argumen tidak menjadi benar karena ditulis seorang dosen/peneliti, dan tidak menjadi salah karena ditulis seorang warga biasa.

Mari kita kembali kepada teks. Tulisan pertama GDL menyebut Alfamart dan Indomaret sebagai “Kuda Troya” modern. Ia menulis bahwa di balik rak yang tertata rapi terdapat “jaringan ekonomi raksasa” yang tidak selalu selaras dengan kepentingan lokal.  Ia menulis bahwa transaksi di ritel modern “berpotensi menjadi aliran keluar” dari ekonomi lokal.

Ia menulis bahwa setiap transaksi di Alfamart dan Indomaret akan menjadi “proses pengurasan likuiditas daerah yang konstan.”  Ia menulis tentang predatory pricing, harga 15–20 persen lebih rendah, UMKM yang tumbang, oligopoli, price creeping, bahkan menyatakan korporasi dapat menanggung kerugian satu gerai selama setahun demi mematikan persaingan.  Ia menulis bahwa pekerjaan ritel dapat menggeser pemilik usaha menjadi pekerja dan bahwa lapangan kerja ritel merupakan “bentuk baru dari ketergantungan tenaga kerja.” Dan akhirnya: “karena itu sikap kita adalah: Tolak!”

Jadi, saya tidak perlu membuat-buat versi Gregorius. Teksnya ada. Pembaca bisa membacanya sendiri. Kalau saya salah membaca, mari tunjukkan bagian mana. Tetapi jangan mengatakan saya mem-parafrase-kan secara keliru ketika yang saya persoalkan justru kalimat-kalimat yang tertulis secara eksplisit.

Pelajaran Ketujuh

Mengenai politik rente, saya setuju: dugaan bukan bukti. Tetapi karena itu, semua pihak harus konsisten. Untuk bagian ini, saya justru menghargai klarifikasi Gregorius. Dalam tulisan ketiga ia mengatakan: “dugaan bukan bukti. Saya setuju.” Ia bahkan menegaskan bahwa selisih nilai sewa lahan tidak dengan sendirinya membuktikan korupsi atau rent-seeking.

Baik. Saya memang mengatakan itu. Dan, saya tetap mengatakan itu. Kalau ada dugaan bahwa tanah tertentu berkaitan dengan pejabat, politisi, pengusaha atau kelompok tertentu, maka dugaan tersebut layak diperiksa.

Tetapi, pemeriksaan harus dilakukan melalui dokumen dan fakta. Siapa pemilik tanah? Berapa nilai sewanya? Siapa penyewa? Siapa yang menerima pembayaran? Adakah perantara? Adakah komisi? Bagaimana proses perizinannya? Adakah konflik kepentingan?

Itu semua pertanyaan yang sah. Tetapi ada perbedaan besar antara: “ada dugaan yang perlu diperiksa” dan “telah terjadi politik rente.” Saya tidak pernah mengatakan pemeriksaan tidak perlu. Saya justru mengatakan pemeriksaan diperlukan karena dugaan belum sama dengan bukti.

Dan, GDL sekarang mengatakan hal yang sama. Maka pada bagian ini sebenarnya tidak perlu lagi ada pertengkaran panjang. Kita tinggal menjalankan prinsip yang sama: buka datanya, periksa dokumennya, lalu simpulkan.

Pelajaran Kedelapan

Bagian ini tidak saya perdebatkan karena GDL sendiri tidak membantah posisi saya. Pada pelajaran kedelapan, GDL justru menjelaskan bahwa ketika saya membahas manfaat investasi melalui tenaga kerja, upah, sewa, transportasi, distribusi dan efisiensi rantai pasok, saya sebenarnya memperluas pertanyaan yang ia ajukan tentang PAD.

Saya tidak melihat ada bantahan substantif yang perlu saya jawab di sini. GDL sendiri mengatakan bahwa PAD bukan satu-satunya manfaat investasi. Jadi, saya tidak akan membuat-buat perdebatan yang sebenarnya tidak ada. Kita lewatkan bagian ini.

Pelajaran Kesembilan

“Atur dan awasi” tidak berarti saya telah menyetujui kesimpulan Gregorius. Ini justru bagian yang paling penting. GDL mengatakan saya mengusulkan: “atur dan awasi.” Lalu ia bertanya: “Kapan? Awasi setelah apa?” Pertanyaan itu sah. Tetapi, dari sini GDL kembali membuat kesimpulan bahwa sebagian besar bantahan saya sebenarnya mendukung tesis utamanya.

Di sinilah, saya ingin memperjelas posisi saya sekali lagi. Saya tidak mengatakan: buka pasar lalu tunggu sampai UMKM hancur. Saya mengatakan: jangan buka tanpa kajian, tetapi jangan pula menutup sebelum kajian. Kalau kajian menunjukkan risiko besar, pemerintah harus bertindak. Kalau ditemukan praktik persaingan tidak sehat, pemerintah harus menindak. Kalau ditemukan konflik kepentingan, harus dibuka. Kalau ditemukan bahwa ekspansi akan mematikan usaha lokal dan tidak dapat dikendalikan, pemerintah mempunyai dasar untuk menolak.

Tetapi, kalau hasil penelitian menunjukkan dampaknya dapat dikendalikan melalui regulasi, pengawasan dan perlindungan UMKM, maka pemerintah tidak perlu membuat keputusan berdasarkan ketakutan.

Inilah perbedaan mendasar kita. GDL memulai dari kekhawatiran kemudian menuju penolakan. Saya memulai dari kekhawatiran kemudian menuju pemeriksaan.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Saya Bantah?

Setelah membaca kembali sembilan pelajaran Gregorius, saya justru melihat bahwa sebagian polemik ini sebenarnya tidak perlu menjadi terlalu panjang. Saya tidak pernah mengatakan teori struktur pasar tidak penting. Saya tidak pernah mengatakan UMKM tidak perlu dilindungi. Saya tidak pernah mengatakan politik rente tidak perlu diperiksa.

Saya tidak pernah mengatakan pemerintah boleh membuka pasar tanpa aturan. Saya tidak pernah mengatakan konsumen harus dikorbankan demi perusahaan besar. Saya tidak pernah mengatakan Alfamart dan Indomaret pasti aman bagi Lembata. Dan, saya juga tidak pernah mengatakan bahwa semua kekhawatiran GDL tidak berdasar.

Yang saya persoalkan adalah lompatan dari kekhawatiran menuju kesimpulan. GDL sendiri dalam tulisan ketiganya mengatakan sebuah kajian harus membedakan: fakta, teori, indikasi, hipotesis, kemungkinan, inferensi dan kesimpulan. Saya hanya meminta prinsip tersebut diterapkan secara konsisten.

Kalau teori digunakan untuk menemukan risiko, silahkan. Kalau risiko digunakan untuk menentukan pertanyaan penelitian, silakan. Kalau dugaan digunakan sebagai pintu masuk pemeriksaan, silakan. Tetapi, jangan mengubah semuanya menjadi kesimpulan sebelum prosesnya selesai.

GDL Tidak Salah karena Mencemaskan Lembata. Yang Perlu Diuji Adalah Kesimpulannya

Saya kira GDL melakukan hal yang penting ketika mengingatkan bahwa masuknya perusahaan besar bukan semata-mata soal bangunan, lampu, AC dan harga murah.

Itu benar. Ada struktur ekonomi di belakangnya. Ada rantai pasok, modal, distribusi, daya tawar, Ada hubungan antara pemerintah, pemilik lahan, pengusaha dan masyarakat. Semua itu layak dibicarakan. Tetapi, kalau semua itu hendak dijadikan dasar kebijakan publik, maka kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari retorika: data.

Kita membutuhkan data tentang pedagang. Data tentang omzet. Data tentang harga. Data tentang struktur pasar. Data tentang pemasok. Data tentang tenaga kerja. Data tentang konsumen. Data tentang kepemilikan dan perizinan. Data tentang dampak sebelum dan sesudah.

Barulah kita bisa berbicara dengan lebih pasti. Sebab, Lembata bukan laboratorium tempat sebuah teori boleh langsung diperlakukan sebagai kenyataan. Lembata adalah rumah kita sendiri. Dan justru karena itu, keputusan tentang masa depan ekonominya harus dibuat dengan hati-hati.

Penutup: Jangan Mengajari Orang Membaca dengan Melupakan Teks Sendiri

Saya menghormati GDL sebagai lawan diskusi. Saya juga tidak keberatan jika ia mengoreksi cara saya membaca teori atau penelitian. Tetapi, saya kira ada satu prinsip yang berlaku untuk kita berdua: sebelum mengatakan orang lain salah membaca, pastikan terlebih dahulu bahwa kita sendiri bersedia membaca ulang apa yang pernah kita tulis.

Sebab, ketika tulisan pertama mengatakan: “karena itu sikap kita adalah: Tolak!” lalu tulisan ketiga menjelaskan bahwa yang sebenarnya dimaksud adalah risiko yang harus dikaji, maka pembaca berhak meminta penjelasan hubungan antara kedua pernyataan tersebut.

Ketika tulisan pertama berbicara tentang predatory pricing, harga 15–20 persen lebih rendah, oligopoli dan kemampuan korporasi menanggung kerugian untuk mematikan persaingan, maka pembaca berhak meminta bukti dan konteks Lembata.

Ketika tulisan kedua memperkenalkan kemungkinan “kesadaran palsu” pada warga yang mendukung Alfamart-Indomaret, maka pembaca berhak bertanya: di mana penelitian yang menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat Lembata memang demikian? Ketika ada dugaan politik rente, pembaca berhak meminta transparansi. Dan ketika teori digunakan sebagai dasar membaca persoalan, pembaca berhak membedakan antara teori dan fakta.

Itu bukan mencari “celah literer”. Itu adalah bagian paling dasar dari diskusi publik. Saya tidak meminta GDL untuk menerima posisi saya. Saya hanya meminta agar perdebatan ini dikembalikan kepada pertanyaan yang sebenarnya: Apa yang sudah kita ketahui tentang dampak Alfamart-Indomaret di Lembata, dan apa yang sebenarnya belum kita ketahui?

Kalau sudah terbukti merugikan, tindak. Kalau ada praktik persaingan tidak sehat, hentikan. Kalau ada konflik kepentingan, buka. Kalau ada politik rente, buktikan. Kalau ada dampak terhadap UMKM, ukur. Kalau belum diketahui, teliti.

Dan, kalau hasil penelitian belum ada, jangan memaksa masyarakat memilih antara “percaya GDL” atau “percaya Alfamart”. Percayakan keputusan pada data. Sebab pada akhirnya, Lembata tidak membutuhkan monopoli Alfamart. Tetapi, Lembata juga tidak membutuhkan monopoli argumen.

Dan kadang-kadang, dalam sebuah polemik, lawan paling kuat dari sebuah argumen bukanlah tulisan orang lain. Melainkan kalimat yang kita tulis sendiri. (*)

Reaksi Pembaca:

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan