Rupiah Tembus Rekor Terlemah Rp.17.400, Bank Indonesia Langsung Pasang Badan

Redaksi HighlightNTT
Waktu Baca ± 2 Min
Bagikan Artikel
Rupiah Tembus Rekor Terlemah Rp.17.400, Bank Indonesia Langsung Pasang Badan

Jakarta – Nilai tukar Rupiah kembali berada di zona merah dan mencatatkan sejarah baru. Pada perdagangan Selasa pagi (5/5/2026), mata uang Garuda resmi menembus level psikologis Rp.17.400 per Dolar Amerika Serikat (AS), yang sekaligus menjadi level terlemah intraday sepanjang masa.

Berdasarkan data Refinitiv pukul 09.07 WIB, Rupiah terpantau merosot ke posisi Rp 17.403/US$. Angka ini menunjukkan pelemahan tajam sebesar 0,22% dibandingkan pembukaan pasar di level Rp 17.380/US$.

Respons Cepat Bank Indonesia

Merespons guncangan tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk tidak tinggal diam. Otoritas moneter ini memastikan akan terus hadir di pasar melalui langkah-langkah intervensi yang terukur guna meredam volatilitas.

"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya," tegas Erwin G. Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI.

Bukan Hanya Rupiah: Tekanan Global di Balik Layar

BI menjelaskan bahwa pelemahan ini dipicu oleh tensi geopolitik di Timur Tengah yang menekan hampir seluruh mata uang pasar berkembang (emerging markets). Menariknya, jika dibandingkan dengan negara tetangga, performa Rupiah diklaim masih relatif lebih tangguh:

Mata Uang

Persentase Pelemahan

Peso Filipina

-6,58%

Baht Thailand

-5,04%

Rupee India

-4,32%

Peso Chile

-4,24%

Rupiah Indonesia

-3,65%

Won Korea

-2,29%

Strategi Intervensi BI

Untuk menahan kejatuhan lebih dalam, BI telah menyiapkan "senjata" moneter yang dioptimalkan secara konsisten, antara lain:

  1. Intervensi Valas: Melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.

  2. Transaksi Domestik: Operasi pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

  3. Pasar Sekunder: Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) untuk menjaga stabilitas.

Langkah-langkah pengamanan ini diambil secara konsisten untuk memastikan stabilitas nasional tetap terjaga di tengah badai tekanan global yang masih berlanjut.**

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan