"Jokowi Jadi Presiden Karena Saya!" – Manuver Jusuf Kalla Bongkar 'Rahasia Dapur' Kekuasaan
Jakarta – Panggung politik nasional mendadak riuh setelah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), melontarkan pernyataan menohok terkait sejarah perjalanan karier Joko Widodo. Di tengah kekesalannya atas tudingan miring yang menerpanya, JK secara blak-blakan memosisikan dirinya sebagai sosok kingmaker di balik melesatnya nama Jokowi hingga ke kursi kepresidenan.
Ledakan Amarah JK: Dari Tudingan Ijazah hingga Peran Historis
Dalam jumpa pers di kediamannya, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026), JK awalnya berniat mengklarifikasi tuduhan Rismon Sianipar yang menyebut dirinya mendanai kasus ijazah Jokowi sebesar Rp.5 Miliar. Dengan nada geram, JK membantah keras tudingan itu sembari menunjukkan bukti percakapan WhatsApp.
Namun, suasana memanas saat JK mulai mengungkit sejarah. Ia mengingatkan publik bahwa tanpa campur tangannya, peta politik Indonesia mungkin akan berbeda.
"Kasih tahu semua itu termul-termul (buzzer) itu, Jokowi jadi presiden karena saya," tegas JK.
JK merinci rentetan jasanya, mulai dari memboyong Jokowi dari Solo ke Jakarta hingga menyodorkan nama sang mantan Wali Kota Solo tersebut kepada Megawati Soekarnoputri untuk maju di Pilkada DKI.
Syarat Megawati: "Tak Ada JK, Tak Ada Tanda Tangan"
Cerita menarik diungkap JK saat momen Pilpres 2014. Ia mengklaim bahwa Megawati sebenarnya tidak ingin menandatangani pencalonan Jokowi jika bukan JK yang menjadi pendampingnya.
Kala itu, JK mengaku sudah bersiap untuk pulang kampung ke Makassar. Namun, Megawati memohon agar dirinya mendampingi Jokowi yang dinilai masih minim pengalaman di level nasional. "Ibu Mega bilang, 'Pak Yusuf dampingi. Saya tidak mau teken kalau bukan Pak Yusuf'. Saya tidak minta, Ibu Mega yang minta karena beliau (Jokowi) tidak berpengalaman," ungkap JK.
Respons Berantai: Antara Kerendahan Hati dan Bantahan Keras
Pernyataan "pedas" JK ini langsung memicu reaksi berantai dari Istana hingga organisasi relawan:
Jokowi: "Saya Hanya Orang Kampung"
Alih-alih membalas dengan narasi politik yang berat, Presiden Jokowi menanggapi klaim tersebut dengan gaya khasnya: rendah hati. Berbicara dari kediamannya di Banjarsari, Solo (20/4/2026), Jokowi menepis kesan besar dengan satu kalimat singkat.
"Ya saya ini bukan siapa-siapa. Saya orang kampung," ujar Jokowi tenang.
PDIP: Sindir Balik "Majikan Buzzer"
PDI Perjuangan memilih untuk tidak ambil pusing. Ketua DPP PDIP, Andreas Hugo Pareira, menilai kekesalan JK sebenarnya ditujukan kepada para buzzer yang ia sebut 'termul'. "Nggak terusik. Lebih baik tanya langsung ke Jokowi saja. Pak JK kesal karena ternak dan didikan pemilik ternak (buzzer). Pemilik ternak itu yang harus tanggung jawab," sentil Andreas.
Projo: Itu Kehendak Rakyat, Bukan Jasa Individu
Relawan Pro Jokowi (Projo) pasang badan. Sekjen Projo, Freddy Alex Damanik, menegaskan bahwa meskipun mereka menghormati JK, kemenangan Jokowi di 2014 bukan karena jasa satu orang, melainkan mandat rakyat. "Kemenangan Jokowi adalah hasil dari kehendak dan kepercayaan rakyat Indonesia. Demokrasi tidak dibangun atas peran satu individu, tapi kerja kolektif," tegas Freddy.**