Oase di Tengah Ketegangan Global: Rupiah "Rebound" dan Kembali Jinakkan Level Psikologis

Redaksi HighlightNTT
Waktu Baca ± 2 Min
Bagikan Artikel
Oase di Tengah Ketegangan Global: Rupiah "Rebound" dan Kembali Jinakkan Level Psikologis
Pergerakan Rupiah Melawan Dollar AS Kredit: Refinitiv

Jakarta – Mata uang Garuda menunjukkan taringnya pada penutupan perdagangan pekan ini. Setelah sempat terpuruk ke level terlemah sepanjang sejarah pada hari sebelumnya, nilai tukar rupiah akhirnya berhasil bangkit dan mendarat di zona hijau pada Jumat (24/4/2026).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan dengan apresiasi meyakinkan sebesar 0,52% ke level Rp17.190/US$. Pergerakan ini menjadi angin segar bagi pasar domestik karena berhasil membawa rupiah kembali ke bawah level psikologis Rp17.200/US$, memperbaiki posisi setelah sempat menyentuh angka Rp17.280/US$ pada Kamis (23/4).

Resiliensi di Balik Keperkasaan "Greenback"

Penguatan rupiah ini terbilang impresif mengingat tekanan eksternal yang masih membara. Di saat yang bersamaan, Indeks Dolar AS (DXY) justru terpantau masih menguat 0,07% ke posisi 98,833. Hal ini menandakan bahwa investor global sebenarnya masih memburu dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

Sentimen negatif global saat ini dipicu oleh:

  • Kebuntuan Diplomasi: Mandeknya negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang memupus harapan meredanya tensi di Timur Tengah.

  • Krisis Jalur Pelayaran: Kontrol Iran atas jalur strategis di Timur Tengah membuat waktu pembukaan koridor pelayaran dunia masih menjadi teka-teki.

  • Beban Energi: Ketidakpastian tersebut menjaga harga energi tetap melambung, yang secara otomatis menekan sentimen pasar global.

BI Pasang Badan: Intervensi dan Senjata SRBI

Keberhasilan rupiah melawan arus global tidak lepas dari tangan dingin Bank Indonesia (BI). Otoritas moneter ini menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas mata uang melalui operasi pasar yang agresif namun terukur.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyatakan bahwa intervensi dilakukan secara berkesinambungan melalui berbagai lini.

"Intervensi yang berkesinambungan akan terus kami lakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian SBN di pasar sekunder," tegasnya pada Jumat (24/4).

Selain intervensi langsung, BI juga mengandalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai "magnet" untuk menarik modal asing. Hingga 21 April 2026, strategi ini terbukti cukup ampuh dengan posisi outstanding SRBI yang mencapai Rp885,41 triliun. Menariknya, kepemilikan investor nonresiden (asing) tercatat sebesar Rp165,98 triliun atau mencakup 18,75% dari total outstanding.

Langkah strategis ini diharapkan mampu menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan memastikan aliran investasi portofolio asing tetap mengalir ke Indonesia, meski badai geopolitik belum sepenuhnya mereda.**

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan