Belajar dari Madura, Pascasarjana Undana Dorong Pengembangan Industri Garam Berkelanjutan di NTT

Redaksi HighlightNTT
Dilihat 84x
Waktu Baca ± 5 Min
Bagikan Artikel
Belajar dari Madura, Pascasarjana Undana Dorong Pengembangan Industri Garam Berkelanjutan di NTT
Tim dosen dan mahasiswa S2–S3 Ilmu Lingkungan Pascasarjana Undana berfoto bersama dalam kegiatan kuliah lapangan di Pulau Madura, Jawa Timur, pada 28–30 Mei 2026. Kredit: Istimewa

Madura- Akademisi dan mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Nusa Cendana (Undana) mempelajari secara langsung industri garam nasional dalam kegiatan kuliah lapangan di Pulau Madura, Jawa Timur, pada 28–30 Mei 2026.

Kegiatan tersebut memberikan pemahaman mengenai proses produksi dan hilirisasi garam. Selain itu, membuka wawasan tentang potensi ekonomi, peluang riset, pengelolaan limbah, hingga tantangan perubahan iklim yang dihadapi industri garam Indonesia.

Sebanyak 12 mahasiswa Magister (S2) dan Doktor (S3) Ilmu Lingkungan Pascasarjana Undana bersama dua dosen pendamping, Dr. Yulianus Paonganan, S.Si., M.Si., dan Dr. Ir. Alfred O. M. Dima, M.Si., mengunjungi kawasan produksi garam PT Garam Nasional Area Sumenep I serta Pabrik Garam Camplong di Kabupaten Sampang.

Kegiatan ini menjadi kesempatan langka untuk menyaksikan secara langsung rantai produksi garam nasional, mulai dari proses pemompaan air laut hingga pengolahan garam konsumsi yang siap dipasarkan kepada masyarakat.

Di kawasan pegaraman Sumenep I, rombongan disambut oleh General Manager Produksi Bahan Baku Area Sumenep I beserta jajaran staf perusahaan.

Dalam diskusi awal, peserta memperoleh gambaran mengenai kompleksitas industri garam yang selama ini jarang diketahui masyarakat.

Air laut dipompa ke dalam waduk-waduk produksi seluas sekitar 2.000 hektare dan membutuhkan waktu hampir satu bulan untuk mencapai tingkat kepekatan tertentu sebelum dialirkan ke meja kristalisasi.

Selanjutnya, sekitar 500 hektare lahan digunakan sebagai area pembentukan kristal garam yang menjadi pusat produksi perusahaan.

Setiap musim produksi, kawasan tersebut mampu menghasilkan sekitar 65.000 ton garam bahan baku yang kemudian dipasok ke berbagai industri pengolahan garam di Indonesia.

Bagi sebagian masyarakat, garam mungkin hanya dikenal sebagai butiran putih di meja makan. Namun, bagi akademisi Ilmu Lingkungan Pascasarjana Undana, garam merupakan komoditas strategis yang menyimpan potensi besar untuk pengembangan ekonomi, kesehatan, industri, dan ketahanan pangan nasional.

“Selama ini belum banyak akademisi yang tertarik meneliti garam. Mungkin karena masyarakat memandang garam hanya sebagai penyedap rasa di dapur,” ujar Dr. Yulianus Paonganan dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (9/6).

Ia menuturkan, garam memiliki nilai strategis yang sangat besar bagi pembangunan ekonomi, kesehatan, industri, hingga ketahanan pangan nasional

Yulianus mengatakan, pengelolaan garam dalam skala besar mampu menciptakan nilai ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Ia mengutip sebuah ungkapan sederhana yang sarat makna.

“Garam satu sendok terasa asin, tetapi kalau satu truk terasa manis. Artinya, ketika dikelola dalam skala besar, garam tidak lagi sekadar soal rasa, melainkan menjadi sumber kesejahteraan dan nilai ekonomi yang sangat besar,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kunjungan tersebut membuka wawasan mahasiswa mengenai posisi garam sebagai bagian penting dari sistem industri nasional yang melibatkan aspek lingkungan, teknologi, ekonomi, dan kebijakan publik.

Yulianus menegaskan bahwa Universitas Nusa Cendana memiliki tanggung jawab akademik untuk menjadi motor pengembangan sektor garam di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebagai provinsi kepulauan dengan panjang garis pantai sekitar 5.700 kilometer, NTT memiliki potensi sumber daya laut yang sangat besar.

Potensi tersebut semakin relevan dengan adanya sejumlah proyek strategis nasional pengembangan kawasan garam yang tersebar di Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, Timor Tengah Utara, dan Sumba Timur.

“Undana harus menjadi lokomotif pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi dalam pengembangan garam di NTT," katanya.

Ia menambahkan, potensi laut NTT sangat besar, tetapi masih membutuhkan dukungan riset, inovasi teknologi, dan kolaborasi multipihak agar memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat.

Perjalanan akademik kemudian berlanjut ke Pabrik Garam Camplong, Kabupaten Sampang.

Di lokasi itu, mahasiswa menyaksikan secara langsung tahapan hilirisasi garam, mulai dari penerimaan bahan baku hingga menjadi produk siap konsumsi.

Manajemen pabrik menjelaskan bahwa setiap batch produksi harus melalui pengujian laboratorium secara berkala untuk memastikan kualitas produk tetap memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Parameter yang diuji antara lain kadar air, kandungan magnesium (Mg), dan kadar natrium klorida (NaCl).

Di balik keberhasilan produksi garam nasional, tim akademisi Undana menemukan persoalan yang sekaligus menjadi peluang besar bagi pengembangan industri masa depan.

Dr. Alfred O. M. Dima menyoroti keberadaan jutaan liter air sisa proses kristalisasi yang hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal.

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, air dengan konsentrasi mineral tinggi tersebut sebagian besar masih diperlakukan sebagai limbah produksi, padahal berpotensi menjadi sumber bahan baku berbagai produk bernilai ekonomi.

“Kita melihat ada peluang besar untuk menerapkan konsep ekonomi sirkular dalam industri garam. Air sisa kristalisasi tidak semestinya hanya dibuang,” kata Alfred.

"Kandungan mineral di dalamnya masih sangat potensial untuk dikembangkan menjadi produk turunan yang memiliki nilai tambah tinggi," sambungnya.

Ia menjelaskan bahwa cairan sisa produksi tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku minuman isotonik berbasis mineral laut, pupuk cair organik, magnesium, bahan baku industri kimia, hingga berbagai produk inovatif lainnya.

“Bisa jadi nilai ekonomi produk turunannya justru lebih besar dibandingkan produk garam itu sendiri. Inilah yang perlu dikaji melalui riset-riset lingkungan dan industri yang terintegrasi,” tambahnya.

Selain isu hilirisasi dan pemanfaatan limbah, perubahan iklim juga menjadi perhatian serius dalam diskusi bersama manajemen perusahaan.

Produksi garam sangat bergantung pada kondisi cuaca, terutama intensitas penyinaran matahari dan rendahnya curah hujan selama musim produksi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir pola musim semakin sulit diprediksi.

Curah hujan yang datang di luar musim menyebabkan proses kristalisasi terganggu dan waktu panen menjadi tertunda.

Kondisi tersebut berpotensi mengurangi produktivitas lahan kristalisasi serta mengancam pencapaian target produksi tahunan.

Menurut Alfred, tantangan tersebut harus dijawab melalui inovasi teknologi yang mampu meningkatkan ketahanan industri garam terhadap dampak perubahan iklim.

“Ke depan diperlukan teknologi tepat guna yang mampu menjaga proses kristalisasi tetap berlangsung optimal meskipun terjadi anomali cuaca. Adaptasi terhadap perubahan iklim bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan bagi industri garam nasional,” tegasnya.

Bagi mahasiswa Pascasarjana Ilmu Lingkungan Undana, kegiatan tersebut menjadi ruang belajar untuk memahami bagaimana ilmu lingkungan dapat berkontribusi dalam pembangunan sektor garam yang berkelanjutan.

Pengelolaan sumber daya laut, adaptasi perubahan iklim, ekonomi sirkular, pengelolaan limbah, hingga hilirisasi produk merupakan isu-isu yang membuka peluang penelitian baru bagi mahasiswa dan dosen.

Selain memberi rasa asin pada makanan, garam menjadi peluang ekonomi, inovasi teknologi, dan agenda pembangunan berkelanjutan (sustainable) yang dapat menjadi masa depan baru bagi wilayah kepulauan seperti Nusa Tenggara Timur (NTT). ** (HLNTT02)

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan