Konstelasi Kondisi Politik dalam IMM
Oleh: Wahidin Sara (Ketua IMM Kota Kupang)
OPINI- Kehidupan politik dalam organisasi, khususnya di lingkungan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika perkaderan dan kepemimpinan.
Sebagai organisasi mahasiswa yang memiliki orientasi perkaderan berlandaskan trilogi, yakni intelektual, keagamaan dan gerakan sosial, IMM senantiasa berhadapan dengan berbagai kepentingan, gagasan, serta perbedaan pandangan dalam menentukan arah organisasi.
Dinamika tersebut merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan organisasi, tetapi dapat menjadi persoalan ketika kepentingan pribadi maupun kelompok lebih dominan daripada kepentingan ikatan.
Konstelasi politik dalam IMM dapat terlihat dalam proses pemilihan dan pergantian kepemimpinan, penyusunan struktur kepengurusan, pengambilan keputusan, serta penentuan arah gerakan organisasi.
Kontestasi antar kader dalam memperoleh posisi kepemimpinan terkadang tidak hanya didasarkan pada gagasan dan kapasitas kader, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kedekatan personal, kelompok, senioritas, jaringan, maupun kepentingan tertentu.
Apabila kondisi tersebut tidak dikelola secara sehat, politik organisasi berpotensi bergeser dari ruang adu gagasan menjadi ruang pertarungan kepentingan.
Di sisi lain, munculnya kelompok-kelompok atau faksi dalam organisasi merupakan bagian dari dinamika yang dapat terjadi dalam proses demokrasi internal.
Perbedaan pandangan seharusnya menjadi kekuatan untuk memperkaya gagasan dan memperkuat tradisi intelektual kader.
Namun, ketika perbedaan tersebut berkembang menjadi polarisasi, eksklusivitas kelompok, dan rivalitas personal, maka dapat menghambat proses konsolidasi organisasi serta mengurangi semangat kolektif dalam menjalankan agenda perkaderan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi IMM untuk memastikan bahwa politik organisasi tetap berada dalam koridor dalam nilai ke-"muhammadiyah"-an, etika perkaderan, intelektualitas dan kepentingan organisasi.
Politik dalam organisasi seharusnya tidak dipahami semata-mata sebagai perebutan posisi, tetapi sebagai proses memperjuangkan gagasan, membangun kepemimpinan, dan menentukan arah gerakan.
Karena itu, setiap kontestasi kepemimpinan perlu ditempatkan sebagai ruang pendidikan politik bagi kader, bukan sebagai arena untuk saling menjatuhkan.
Dalam konteks tersebut, integritas kader menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kehidupan organisasi yang sehat.
Kader IMM dituntut memiliki kemampuan untuk membedakan antara kepentingan pribadi, kepentingan kelompok dan kepentingan organisasi.
Kepemimpinan tidak seharusnya menjadi tujuan akhir dari proses perkaderan, melainkan sarana untuk menghadirkan kebermanfaatan dan menjalankan misi organisasi.
Dengan demikian, tantangan politik IMM bukan semata-mata terletak pada adanya kontestasi atau perbedaan kepentingan, tetapi pada bagaimana seluruh dinamika tersebut dikelola menjadi kekuatan konstruktif.
Demokrasi internal perlu diarahkan pada adu gagasan, keterbukaan, musyawarah, meritokrasi, serta penghormatan terhadap perbedaan.
Dengan cara tersebut, politik organisasi IMM dapat menjadi bagian dari proses perkaderan yang melahirkan kader-kader yang matang secara intelektual, kuat secara ideologis, berintegritas dalam kepemimpinan, dan mampu memberikan kontribusi bagi persyarikatan, umat, dan bangsa. **(WS)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi
Cari Berita
Trending NTT
Kelangkaan BBM di Kupang: Krisis Anggaran Subsidi atau Kegagalan Tata Kelola Distribusi?
Efisiensi Anggaran di Tengah Kabinet yang Meluas: Saatnya Pemerintah Membuktikan Value for Money
Apa Hal Fundamental Penyebab Penimbunan BBM di Sumba Barat Daya?
Ketika Barak Masuk ke Kantor Pemerintah: Menguji Batas Militerisasi Birokrasi
Di Dalam Rasionalitas Penolakan Saya: Ada Igo yang Melawan Bayangannya Sendiri dan Pemda yang ‘Malas Tahu’
Di Hadapan Teksnya Sendiri: Menjawab Sembilan “Pelajaran” Gregorius Duli Langobelen dengan Menguji Argumen pada Teks yang Ia Tulis Sendiri
Di Hadapan Kekuatan Ekonomi-Politik: Mengajak PemDa Berpikir dalam Sembilan Pelajaran Menulis untuk Igo
Membela Hak Konsumen, Menolak Monopoli Argumen: Mengapa Kehadiran Alfamart-Indomaret di Lembata Tidak Harus Ditolak Total
Alfamart Masuk Lembata: Ketika Warga Membela Sistem yang Menggerus Mereka
64 Tahun Menjulang, 25 Tahun Mengakar: Undana dan Pascasarjana Menuju World Class, Locally Relevant University