Hadapi Perubahan Iklim, Petani Todanara Diperkuat Lewat Pelatihan Pertanian Adaptif

Emanuel Boli
Waktu Baca ± 2 Min
Bagikan Artikel
Hadapi Perubahan Iklim, Petani Todanara Diperkuat Lewat Pelatihan Pertanian Adaptif
Peserta melakukan pembersihan lahan, pengolahan lubang tanam, penanaman berbagai jenis tanaman dalam sistem polikultur Kredit: Dok. Sisko Making

Lembata - Pemerintah Desa Todanara, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, bekerja sama dengan Tim IDEP dan LSM BARAKAT menyelenggarakan Pelatihan Pertanian Cerdas Iklim selama tiga hari, pada 15–17 April 2026.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat, khususnya petani, dalam menghadapi dampak perubahan iklim melalui praktik pertanian yang adaptif dan berkelanjutan.

Pelatihan yang berlangsung di Balai Pertemuan Desa Todanara dan Rumah Pariwisata ini diikuti puluhan peserta dari kalangan petani dan masyarakat setempat. Kegiatan meliputi penyampaian materi, diskusi partisipatif, serta praktik langsung di lapangan.

Selama pelatihan, peserta memperoleh pemahaman mengenai perubahan iklim yang berdampak pada sektor pertanian, seperti perubahan pola curah hujan, pergeseran waktu tanam, serta meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman.

Kondisi tersebut diketahui telah menyebabkan penurunan hasil produksi pada berbagai komoditas, antara lain jagung, padi ladang, dan tanaman hortikultura.

Sebagai solusi, fasilitator Sayu Komang memperkenalkan konsep pertanian cerdas iklim yang mengedepankan tiga prinsip utama, yakni pengolahan tanah minimum, pemulsaan, dan pengaturan pola tanam.

“Pendekatan ini dinilai relevan dengan kondisi wilayah kering seperti Desa Todanara karena memanfaatkan sumber daya lokal serta mengurangi ketergantungan pada bahan kimia,” ungkapnya dalam keterangan yang diterima HighlightNTT, Sabtu, 26 April 2026, malam.

Selain itu, peserta juga dilatih menerapkan teknik konservasi lahan, seperti pembuatan teras dan penggunaan bahan organik sebagai pupuk alami.

Dalam praktik lapangan, peserta melakukan pembersihan lahan, pengolahan lubang tanam, penanaman berbagai jenis tanaman dalam sistem polikultur, hingga uji pH tanah.

Selama dua hari praktik lapangan, peserta berhasil menghasilkan demplot percontohan dengan total 236 tanaman yang ditanam dan akan dikelola secara berkelanjutan oleh kelompok peserta.

Pelatihan ini juga menekankan pentingnya pengendalian hama secara alami serta penggunaan benih lokal guna meningkatkan kemandirian petani.

Penggunaan bahan kimia secara berlebihan dinilai berpotensi merusak lingkungan, termasuk ekosistem pesisir.

Selain itu, peserta diperkenalkan pada sistem wanatani, yakni integrasi antara pertanian, peternakan, dan tanaman umur panjang untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan.

Kepala Desa Todanara, Fransiskus Boli, dalam arahannya menyampaikan komitmen pemerintah desa untuk mendukung pengembangan pertanian cerdas iklim serta mengimplementasikan sistem wanatani di wilayah tersebut.

“Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan mampu membangun sistem pertanian yang lebih tangguh, produktif, dan ramah lingkungan di tengah tantangan perubahan iklim," katanya

Selain itu, ia berharap peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di lahan masing-masing dan menjadi contoh bagi petani lainnya.

Ke depan, sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, dan lembaga mitra diharapkan terus diperkuat guna meningkatkan ketahanan pangan sekaligus kesejahteraan masyarakat.** (SM)

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan