Duka di Terminal Kargo El Tari Kupang: Isak Tangis Sambut Kepulangan Dua Jenazah PMI NTT dari Malaysia
Kupang – Suasana haru menyelimuti Terminal Kargo Bandara El Tari Kupang pada Jumat pagi (24/04/2026). Di bawah temaram fajar, tepat pukul 05.54 WITA, pesawat Citilink QG-602 mendarat membawa dua peti jenazah pahlawan devisa asal Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka adalah Maria Magdalena Abuk dan Damianus Mikhail, dua Pekerja Migran Indonesia (PMI) non-prosedural yang mengembuskan napas terakhir di tanah perantauan, Malaysia.
Penjemputan ini dihadiri oleh jajaran BP3MI Provinsi NTT, perwakilan Disnakertrans, Bea Cukai, serta tokoh kemanusiaan Sr. Laurentina SDP dari JPIC Divina Providentia yang setia mengawal kepulangan para PMI.
Kisah Pilu dari Tawau: Suami dan Anak Tertahan Dokumen
Salah satu jenazah, Maria Magdalena Abuk (35), meninggalkan kisah yang menyayat hati. Perempuan asal Desa Manule, Kabupaten Malaka ini meninggal dunia di Hospital Tawau, Sabah, pada 14 April lalu dengan penyebab kematian yang masih dalam penyelidikan laboratorium (pending investigation).
Maria merantau ke Malaysia pada tahun 2022 bersama suaminya, Marianus Nahak. Selama empat tahun bekerja sebagai buruh sawit, ia melahirkan dua orang anak di sana. Namun, duka keluarga ini berlipat ganda; saat jenazah Maria dipulangkan ke tanah air, suami dan kedua anaknya tidak dapat ikut mengantar karena terkendala dokumen paspor. Sebelumnya, kasus Maria sempat memicu perhatian publik lantaran proses pemulangannya sempat tertahan akibat keterbatasan biaya.
19 Tahun Merantau, Pulang dalam Peti
Jenazah kedua adalah Damianus Mikhail (58), seorang buruh sawit senior asal Desa Weowolo, Kabupaten Nagekeo. Berbeda dengan Maria, Damianus adalah perantau kawakan yang telah bekerja di Malaysia selama 19 tahun.
Berdasarkan catatan otoritas Malaysia, Damianus meninggal dunia pada 20 April 2026 di Hospital Beluran, Sabah, akibat sakit jantung koroner. Kehadirannya di terminal kargo disambut oleh sepupunya, Benediktus Raga, yang akan mengawal kepulangannya hingga ke kampung halaman di Nagekeo.
Prosesi Pemulangan dan Statistik yang Menghantui
Setelah proses administrasi di kargo selesai pada pukul 06.48 WITA, kedua jenazah langsung diberangkatkan menggunakan ambulans:
Jenazah Maria Magdalena langsung dibawa melalui jalur darat menuju Kabupaten Malaka.
Jenazah Damianus Mikhail dibawa menuju Pelabuhan Bolok untuk diseberangkan ke Pelabuhan Aimere, sebelum melanjutkan perjalanan darat ke Nagekeo.
Kepulangan Maria dan Damianus menambah daftar panjang potret buram migrasi non-prosedural di NTT. Data BP3MI Provinsi NTT mencatat angka yang sangat memprihatinkan: Hanya dalam kurun waktu kurang dari empat bulan (3 Januari hingga 24 April 2026), sebanyak 47 PMI asal NTT telah meninggal dunia di luar negeri.
Dari total 47 korban tersebut, 44 di antaranya merupakan PMI non-prosedural, satu anak dari PMI non-prosedural, dan hanya dua orang yang berstatus prosedural. Seluruh kasus kematian ini terjadi di Malaysia, sebuah fakta yang menunjukkan betapa tingginya risiko bagi warga yang nekat merantau tanpa perlindungan dokumen yang resmi.
Kepulangan pagi ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak bahwa di balik pundi-pundi ringgit yang dikejar, ada nyawa dan keluarga yang seringkali harus dibayar mahal dalam keheningan terminal kargo.**
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi