Perdana Digelar, Malam Karnaval Budaya Kupang Jadi Ruang Ekspresi Multietnis

Emanuel Boli
Waktu Baca ± 3 Min
Bagikan Artikel
Perdana Digelar, Malam Karnaval Budaya Kupang Jadi Ruang Ekspresi Multietnis
Tarian Kataga Sumba (EB/highlightntt.com Kredit: EB

Kupang - Berbagai tarian daerah di Indonesia ditampilkan dalam Malam Karnaval Budaya memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-140 Kota Kupang dan Hari Jadi ke-30 sebagai daerah otonom, yang berlangsung di Bundaran Tirosa, Jalan Bundaran PU, Kelurahan Tuak Daun Merah, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Sabtu (25/4/2026) sekitar pukul 19.00 WITA.

Kegiatan bertema “Harmoni dalam Keberagaman” ini dipadati warga Kota Kupang yang antusias menyaksikan beragam pertunjukan tarian daerah dari berbagai daerah di Indonesia dan NTT khususnya.

Dalam kegiatan tersebut, berbagai diaspora dan komunitas etnis di Kota Kupang menampilkan aneka tarian daerah, di antaranya Tarian Caci dari Manggarai, Tarian Tua Reta Lou dari Sikka, Tarian Wanda Pa’u, Tarian Gawi dari Ende, Tarian Kataga Sumba.

Selain itu, Tarian Santi dari Bali, tarian daerah Amanatun, tarian Minangkabau, Tarian Soat dari Timor Tengah Utara, tarian Batak dari Sumatera Utara, Tarian Ja’i dari Ngada, tarian dari Maluku, Tarian Cakalele dari Alor, Tarian Hedung Lamaholot, hingga Tarian Pa’gellu dari Toraja.

Berbagai tarian daerah tersebut sarat makna filosofis, estetik, dan historis yang mencerminkan identitas serta nilai-nilai budaya masing-masing daerah.

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menyebutkan bahwa Malam Karnaval Budaya ini merupakan kegiatan perdana dalam sejarah Kota Kupang. Hal tersebut disampaikannya saat upacara HUT di Lapangan Kantor Wali Kota Kupang.

Dia berkata, kegiatan ini menjadi tonggak sejarah baru sebagai ruang ekspresi bagi seluruh komunitas etnis untuk menampilkan kekayaan budaya masing-masing.

“Karnaval budaya ini adalah mimpi kita bersama agar menjadi agenda tahunan bahkan event nasional yang mampu menarik wisatawan dan menggerakkan ekonomi daerah,” ujarnya.

Dalam sambutan di Malam Karnaval Budaya , ia mengatakan bahwa perayaan ini bukan sekadar parade budaya, melainkan momentum untuk merayakan identitas Kota Kupang sebagai kota yang menjunjung tinggi keberagaman dan kolaborasi.

“Hari ini, kita tidak hanya merayakan karnaval, tetapi merayakan jiwa Kota Kupang, yakni keberagaman dan kolaborasi yang harmoni,” katanya.

Dia juga menegaskan bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang menyatukan masyarakat. Perbedaan, menurutnya, seharusnya menjadi jembatan yang mempererat kebersamaan.

“Harmoni itu bukan sama, tetapi seimbang. Kita tidak bisa menyeragamkan semua orang, tetapi kita bisa hidup bersama dalam keseimbangan,” tambahnya.

Christian mengatakan Kota Kupang sebagai miniatur Indonesia dan Nusa Tenggara Timur karena dihuni berbagai suku, etnis, dan agama yang hidup berdampingan secara damai selama puluhan tahun.

Untuk diketahui, karnaval budaya yang digelar tahun ini menjadi yang pertama dan melibatkan hampir 50 komunitas etnis yang menampilkan beragam busana adat, tarian, serta atraksi budaya.

Sementara itu, warga Kota Kupang, Alfons Making, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut.

Alfons berkata, malam Karnaval Budaya menjadi ruang ekspresi yang memperlihatkan kekayaan budaya dari berbagai diaspora dan etnis di Kota Kupang.

"Penampilan beragam tarian daerah selain menghibur, tetapi juga memperkuat semangat persatuan, toleransi, dan identitas multikultural masyarakat Kota Kupang," pungkasnya.** (EB)

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan