Mengapa Fenomena Haze di Manggarai Terjadi? Ini Penjelasan Resmi BMKG
Manggarai, HighlightNTT.com- Fenomena udara kabur atau haze yang menyelimuti wilayah Kabupaten Manggarai dan sekitarnya mulai menunjukkan tren penurunan dibandingkan pekan sebelumnya. Kendati demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika tetap mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap dampak penurunan kejernihan udara tersebut.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Frans Sales Lega, Dinda Surya Selviany Labuh, meluruskan bahwa fenomena udara kabur pada dasarnya merupakan kondisi yang lazim dijumpai saat musim kemarau. Partikulat akibat kebakaran hutan dan lahan bukanlah unsur utama pembentuk fenomena haze tersebut, melainkan faktor yang memperburuk kejernihan udara pada kejadian kali ini.
"Fenomena udara kabur itu sendiri sebenarnya umum berlangsung pada musim kemarau. Namun, untuk kejadian saat ini, penurunan kejernihan udara semakin terasa akibat adanya akumulasi partikulat halus seperti debu, jelaga, dan asap yang melayang di atmosfer. Jadi, partikulat karhutla bukan unsur utama terjadinya haze, melainkan memperparah kondisi jarak pandang yang ada," jelas Dinda Surya Selviany Labuh di Ruteng, Selasa (13/10).
Terkait dinamika sebarannya, Dinda memaparkan bahwa tingkat intensitas fenomena ini sangat bergantung pada aktivitas kebakaran hutan dan lahan di wilayah asal, pola pergerakan angin atmosfer, serta kondisi cuaca lokal di Manggarai. Keberadaan hujan di tingkat lokal memegang peranan penting karena dapat meluruhkan partikulat yang melayang di udara.
"Intensitas fenomena ini sangat bergantung pada perkembangan kejadian karhutla, dinamika pola angin atmosfer yang membawanya, serta kondisi cuaca di Manggarai sendiri, karena hujan efektif meluruhkan partikulat di udara. Berdasarkan hasil pemodelan BMKG per 12 Oktober 2026, potensi udara kabur masih ada dalam beberapa hari ke depan, kendati trennya sudah menurun signifikan dibandingkan pekan lalu," ungkap Dinda.
Ia menambahkan, masyarakat tidak perlu panik namun disarankan tetap menerapkan langkah antisipasi saat beraktivitas di ruang terbuka, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga dengan riwayat gangguan pernapasan.
"Ketika beraktivitas di luar ruangan, masyarakat kami imbau tetap mengenakan masker dan mengurangi aktivitas fisik yang berat. Terkait rekomendasi teknis mengenai jenis masker yang paling tepat digunakan, masyarakat dapat mengacu pada panduan resmi dari Dinas Kesehatan setempat. Tetap tenang dan jangan termakan oleh kabar yang belum terverifikasi," imbau Dinda.
Sementara itu, Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas II Frans Sales Lega, Risang Bayu, menyampaikan bahwa sebaran partikel kiriman yang melintasi wilayah Flores dan Nusa Tenggara Timur secara umum terbawa oleh aliran angin muson timur dari arah timur. Risang menyebutkan bahwa kondisi ini berpotensi menimbulkan keluhan pernapasan dan sempat membatasi jarak pandang mendatar pada sektor transportasi.
"Potensi gangguan pernapasan tetap perlu diantisipasi masyarakat saat beraktivitas di luar. Selain aspek kesehatan, pantauan kami di lapangan menunjukkan fenomena ini sempat memengaruhi jarak pandang mendatar dan berdampak pada operasional penerbangan," jelas Risang.
Guna mengantisipasi dampak lanjutan, Stasiun Meteorologi Frans Sales Lega terus menjalankan pengamatan cuaca selama 24 jam penuh serta rutin memperbarui informasi sebaran partikel melalui saluran resmi BMKG Manggarai sebagai rujukan bagi pemerintah daerah dan instansi terkait. **(Hafiz/HighlightNTT)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi
Cari Berita
Trending NTT
Penanganan Kebakaran dan Pengelolaan Sampah di TPA Ncolang Manggarai Terus Diupayakan di Tengah Berbagai Kendala
Diduga Mabuk Miras, Seorang Anak Diduga Aniaya Ayah Kandung hingga Luka di Kepala
Polda NTT Buka Kembali Kasus Dugaan TPPO, 2 Berkas Perkara Lengkap
Usai 1,5 Tahun Pimpin Polda NTT, Rudi Darmoko Serahkan Pataka kepada Reza Arief Dewanto
Kapolda NTT Reza Arief Dewanto Tiba di Kupang, Serah Terima Pataka Digelar Malam Ini
Dua PMI Asal Lembata dan Flores Timur Meninggal di Malaysia, Ini Penyebabnya
Sepulang dari Gereja, Kalung Warga Kupang Dijambret, 2 Tersangka Diserahkan ke Jaksa
Kabur ke NTT, V.A.T. Ditangkap Polisi di Soe Usai Diduga Tendang Motor Korban hingga Tewas
Ahli Hukum Pidana Minta Kasus Dokter Icha Segera P-21: Jangan Ragu-ragu
Mengapa Paman dr Icha Ingin 3 Tersangka DPRD TTU Ditempatkan di Nusakambangan?