Laga Catur Urat Saraf: Siapa yang Akan 'Bocor' Duluan di Perang Ekonomi Iran-AS?

Redaksi HighlightNTT
Waktu Baca ± 2 Min
Bagikan Artikel
Laga Catur Urat Saraf: Siapa yang Akan 'Bocor' Duluan di Perang Ekonomi Iran-AS?
Ilustrasi Bendera AS dan Iran

Jakarta – Ketegangan antara Teheran dan Washington kini memasuki babak baru yang lebih dingin namun mematikan. Bukan lewat rudal balistik, melainkan melalui perang urat saraf ekonomi yang kini menyandera stabilitas global. Pertanyaan besarnya tetap sama: Di tengah kebuntuan negosiasi, siapa yang punya napas lebih panjang untuk bertahan?

Strategi Asimetris: Iran Memainkan Kartu Minyak

Meskipun secara militer kalah segalanya dari Amerika Serikat, Iran menunjukkan bahwa mereka tidak butuh konfrontasi terbuka untuk menyakiti lawan. Teheran dinilai telah mencapai tujuan strategisnya: melambungkan harga minyak dunia. Dengan melonjaknya biaya energi, AS kini berada di bawah tekanan domestik dan internasional untuk melunakkan sikap. Di lapangan, taktik "asimetris" Iran bekerja efektif:

  • Gangguan Pelayaran: Armada kapal kecil Iran terus mengusik jalur Selat Hormuz.

  • Ancaman Infrastruktur: Media pro-pemerintah Iran mulai melirik target vital seperti kabel data bawah laut dan kilang minyak raksasa di kawasan Teluk, termasuk Ruwais (UEA) dan Abqaiq (Arab Saudi).

Trump: "Waktu Berpihak Padaku"

Di sisi lain, Presiden Donald Trump tetap menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi. Melalui narasi di media sosial, Trump bersikeras bahwa sanksi dan blokade ekonomi akan mencekik Iran sebelum AS merasa lelah.

"Saya punya banyak waktu, tetapi Iran tidak. Waktu terus berjalan dan tidak berpihak pada mereka!" tegas Trump.

Namun, klaim Trump soal "kesepakatan yang hampir tercapai" justru dibenturkan dengan kenyataan pahit. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, secara terbuka menyebut Trump berbohong kepada publik.

Blokade dan Perlawanan di Garis Depan

Hingga Jumat (24/4/2026), situasi di Selat Hormuz kian memanas. Militer AS dilaporkan telah mencegat lebih dari 30 kapal dalam upaya memberlakukan blokade total terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Namun, perlawanan Iran tidak surut. Setidaknya lima kapal dilaporkan diserang di jalur perdagangan strategis tersebut sebagai pesan balasan. Absennya Iran dalam pembicaraan di Islamabad semakin mempertegas posisi mereka: tidak akan bernegosiasi di bawah moncong senjata.

Seni Diplomasi "Perlahan tapi Pasti"

Bagi Teheran, diplomasi bukan soal siapa yang paling keras berteriak di meja perundingan, melainkan seni membaca situasi. Ghalibaf menegaskan bahwa "musuh telah dikalahkan secara strategis" dan Iran hanya akan bergerak jika blokade AS diangkat - sebuah syarat yang hingga kini ditolak mentah-mentah oleh Gedung Putih.**

Kolom Komentar

Suara Pembaca


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan
Sponsored
Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Sponsored Content Teman Cerita - Bukan Cerita Biasa
Pasang Iklan