Festival Budaya Oebufu, dari Busana Adat hingga Kampanye Pengelolaan Sampah
Budaya, HighlightNTT.com- Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, menggelar Festival Budaya 2026 selama tiga hari, 19–21 Oktober 2026.
Kegiatan yang berlangsung di wilayah RT 034, RW 008, ini melibatkan 56 peserta dalam berbagai perlombaan, mulai dari peragaan busana daerah hingga tarian Tebe kreasi dan pidato tentang pengelolaan sampah.
Festival tersebut mengusung tema “Merawat Budaya, Mempererat Persaudaraan, dan Memperkuat Persatuan dalam Semangat Sumpah Pemuda”.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk melestarikan tradisi, mengembangkan kreativitas generasi muda, serta memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman.
Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kota Kupang, Daud Noftianus Nafi, yang mewakili Wali Kota Kupang Christian Widodo, mengatakan perbedaan budaya semestinya menjadi kekuatan untuk mempersatukan masyarakat, bukan memisahkan mereka.
“Oebufu dengan keberagaman yang ada mestinya memiliki pesan yang kuat terkait dengan perbedaan-perbedaan budaya. Namun, perbedaan itu bukan memisahkan. Justru perbedaan itu mestinya membuat kita bersatu,” ujar Daud dalam sambutannya di Kelurahan Oebufu, Senin, 19 Oktober 2026.
Menurut dia, budaya tidak cukup hanya ditampilkan melalui pakaian adat atau diceritakan sebagai warisan masa lalu. Budaya harus terus dihidupi agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap terpelihara dan menjadi identitas masyarakat dari generasi ke generasi.
Dalam festival tersebut, beragam pakaian adat dari sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur ditampilkan, termasuk busana dari Rote, Flores, dan Timor. Anak-anak sekolah dasar juga mengenakan pakaian adat yang menjadi bagian dari perlombaan.
“Budaya itu mesti dihidupi. Kalau kita tidak menghidupi budaya, sesungguhnya kita tidak sedang merawat budaya yang ada. Saya mendorong, mari merawat budaya yang ada dimulai dari Kelurahan Oebufu,” kata dia.
Daud menyebutkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, Festival Budaya Oebufu telah memasuki penyelenggaraan keempat. Pada 2026, Oebufu menjadi kelurahan ke-45 dari total 51 kelurahan di Kota Kupang yang menyelenggarakan festival budaya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi sarana untuk menjaga identitas masyarakat dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Melibatkan 56 Peserta
Ketua Panitia Festival Budaya Kelurahan Oebufu 2026, Dr. Laurensius Lehar, S.P., M.P., mengatakan Oebufu merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Oebobo yang terdiri atas 49 rukun tetangga (RT) dan 12 rukun warga (RW).
Ia berkata, angka tersebut bukan sekadar data administrasi pemerintahan. Di dalamnya terdapat beragam tradisi, harapan, dan semangat persaudaraan dari masyarakat yang berasal dari latar belakang suku, agama, bahasa, adat istiadat, dan budaya yang berbeda.
“Keberagaman ini merupakan kekayaan yang patut kita syukuri dan pelihara. Sebab, walaupun kita berasal dari latar belakang yang berbeda, kita tetap hidup dalam satu semangat kebersamaan dan persaudaraan,” ujar Laurensius dalam laporannya, Senin.
Ia menjelaskan, festival tahun ini melibatkan anak-anak, remaja, pemuda, pelajar, kelompok seni budaya, hingga masyarakat umum. Sebanyak 56 peserta terdaftar dalam tiga jenis perlombaan.
Pertama, lomba peragaan busana daerah NTT dengan kategori antar-RT/RW, pelajar SMP/SMA, dan masyarakat umum. Kedua, lomba tarian Tebe kreasi yang melibatkan kelompok atau perwakilan RT/RW se-Kelurahan Oebufu.
Ketiga, lomba pidato tentang pengelolaan sampah untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.
Selain perlombaan, festival dimeriahkan dengan pentas seni budaya, pameran kerajinan masyarakat, bazar kuliner dan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta malam hiburan rakyat.
Festival budaya, lanjut dia, diharapkan menjadi wadah untuk melestarikan tradisi, mengembangkan kreativitas generasi muda, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat persatuan di tengah keberagaman.
“Kami ingin agar anak-anak dan generasi muda Oebufu tidak hanya bangga mengenakan pakaian adat, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur,” tuturnya.
Ia menambahkan, budaya boleh berbeda dan bahasa boleh beragam, tetapi persaudaraan harus tetap terjaga. Menurut dia, masyarakat yang menghargai dan merawat budayanya turut memperkuat identitas bangsa.
Didukung Pemerintah dan Masyarakat
Pelaksanaan Festival Budaya Kelurahan Oebufu 2026 didukung berbagai sumber pendanaan, antara lain bantuan Pemerintah Kota Kupang, swadaya RT dan RW se-Kelurahan Oebufu, partisipasi masyarakat, serta bantuan para donatur dan sponsor maupun sumber lain yang sah dan tidak mengikat.
Laurensius mengatakan dukungan tersebut mencerminkan semangat gotong royong dan kepedulian bersama dalam melestarikan budaya serta mempererat persaudaraan masyarakat.
Bagi panitia, kata dia, besar kecilnya bantuan bukan ukuran utama. Hal yang lebih penting ialah ketulusan, kebersamaan, dan kepedulian semua pihak untuk menyukseskan kegiatan.
Akademisi Politeknik Pertanian Kupang itu juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan generasi muda yang telah bekerja dengan penuh semangat dalam mempersiapkan dan melaksanakan festival.
Meski begitu, panitia menyadari masih terdapat kekurangan selama persiapan maupun pelaksanaan kegiatan. Oleh karena itu, Laurensius menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak.
Ia berharap Festival Budaya Kelurahan Oebufu dapat terus berkembang dan menjadi agenda tahunan yang dibanggakan masyarakat, bukan sekadar kegiatan seremonial.
“Dari Oebufu, kita ingin menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu, melainkan kekuatan untuk membangun Kota Kupang yang lebih maju, harmonis, dan berbudaya,” pungkasnya.
Mel Medah Apresiasi Festival Budaya
Tokoh masyarakat Mel Medah menyampaikan kebanggaan atas penyelenggaraan Festival Budaya di Kelurahan Oebufu, khususnya di wilayah RT 034/RW 008.
“Kami merasakan suatu kebanggaan dan kehormatan tersendiri ketika pada sore hari ini Festival Budaya dilaksanakan di Kelurahan Oebufu, khususnya bertempat di RT 034/RW 008. Ini merupakan kebanggaan dari kami warga di sini,” kata Mel.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Kupang karena festival tersebut merupakan bagian dari program pemerintah kota. Menurut dia, kegiatan ini bermanfaat untuk menjaga dan melestarikan beragam budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Mel berharap kegiatan serupa terus mendapat dukungan, sehingga masyarakat memiliki ruang untuk menampilkan tradisi, memperkenalkan kekayaan budaya daerah, dan mempererat hubungan antarkelompok masyarakat.
Festival Budaya Kelurahan Oebufu 2026 kemudian dibuka secara resmi oleh Daud Noftianus Nafi yang mewakili Wali Kota Kupang Christian Widodo. Pembukaan tersebut menandai dimulainya rangkaian kegiatan budaya yang berlangsung hingga 21 Oktober 2026. **(Emanuel Boli)
Kolom Komentar
Suara Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Rekomendasi Redaksi
Cari Berita
Trending NTT
Polda NTT Periksa Urine 52 Orang di Tempat Penginapan, ini Hasilnya
BP3MI NTT Fasilitasi Pemulangan Jenazah PMI Asal Adonara, Ingatkan Paspor Bukan Satu-satunya Syarat
OTT KPK di BNPB, DPRD NTT Desak Usut Distribusi Bantuan Gempa Flores
Polsek Maulafa Respons Cepat Aduan Musik Bising, Pemilik Hajatan Matikan Musik
Bulog Gelar Gerakan Pangan Murah di Sumba Barat Daya
Pendeta Ina Pimpin Doa untuk Jenazah PMI NTT ke-120 yang Tinggalkan Anak Kembar
Dua Dusun di Mandeu Raimanus Belum Terjangkau Listrik, 80 KK Menanti Kepastian
Pascagempa Manggarai, Pemulihan Air Bersih dan Jaringan Komunikasi Dikebut
Polisi Hentikan Musik Pesta yang Ganggu Warga Oebufu
PMKRI: Polisi Harus jadi Pelindung, Pengayom, dan Pelayan yang Dekat dengan Masyarakat